Friday, November 27, 2009

Grasscarp mampukah melawan enceng gondok di rawapening?

Rawapening ditebari 10.000 bibit ikan grasscarp untuk mengendalikan enceng gondok, ini berita taun 2002, sudah hampir 8 taun berlalu, sampai sekarang sepertinnya koloni enceng gondok nya malah bertambah luas, tidak terlihat efeknya kalau enceng gondok berkurang dimakan grasscarp hehe... berikut beberapa kemungkinannya;

- mungkin..grasscarp nya tidak doyan enceng gondok, karena alot? kebo aja gak doyan, apalagi kambing, giginya bisa rontok kalo disuruh nggigitin batang enceng gondok yang alot sealot sandal enceng gondok hehe...

- mungkin grasscarp nya memilih makan ganggeng rawa atau rumput muda dan lumut dipinggir rawa yang berlimpah dan lebih empuk dari pada mengunyah enceng gondok yang kalo digigit mendal kayak karet...

- atau jangan-jangan bibit grasscarp nya sudah habis dijaring nelayan yang suka pake jaring mata lembut?

- atau mungkin grasscarpnya terlalu sedikit?

- atau bibit grasscarpnya dihabisi dibantai dimakan ikan gabus? dan katanya juga grascarp tidak mau memijah dirawa pening?

- dulu perasaan grasscarp di kolam dekat rumah tidak mau makan enceng gondok, sampai sebesar lengan pun tetap makan rumput sama daun singkong n daun mbayung yang jauh lebih lembut dari enceng, enceng gondok di kolam utuh, malah sering dibuangin karena menuh-menuhin kolam...gak tau ya kalo grasscarp di alam liar, mungkin mau makan enceng gondok.....

- atau mungkin grasscarp mau makan enceng gondok, tapi grasscarp nya harus segede paha dulu?.....

- katanya didanau kerinci ikan grasscarpnya sukses membasmi enceng gondok?... eit tunggu dulu, di Danau Kerinci tidak ada ganggang air hydrilla dan cabomba sp seperti dirawapening, danau Kerinci danau dalam dan pinggirnya tidak mempunyai daerah genangan yang luas seperti rawa pening yang banyak ditumbuhi rumput dan lumut yang notabene makanan favorit grasscarp,.. mungkin grasscarp di danau kerinci terpaksa makan enceng gondok karena tidak ada pilihan lain dan memang tidak ada tumbuhan lain selain enceng, tidak seperti di rawapening, dan mungkin danau kerinci airnya tidak sesubur air rawapening yang dikelilingi ribuan hektar sawah yang pupuknya hanyut ke rawa dan menyuburkan rawa dan sangat cocok untuk enceng gondok untuk menggandakan diri?.....

yang jelas enceng gondok rawapening tidak bergeming sama sekali, tetap menguasai 60% lebih permukaan rawa! tidak semudah itu menyuruh grasscarp makan enceng... ini sebagai pelajaran saja bagi pihak yang peduli dan mempunyai otoritas untuk menentukan kebijakan makro di rawapening, untuk lebih komprehensif dalam mengambil dan melaksanakan keputusan, perlu analisys lebih lanjut dengan mempertimbangan faktor ekologi yang lebih detil tentunya, berikut beritanya;


gambar; ganggang sungai untuk makanan grass carp, bisa juga diberi makan rumput muda biasa, daun rumput gajah muda, daun jagung, daun kacang panjang (dong mbayung), daun ubi jalar, daun singkong, dsj.

AMBARAWA- Lebih dari 10.000 benih ikan grasscarp secara bertahap sejak pekan lalu ditebar di perairan Rawapening, Kabupaten Semarang. Ikan itu lebih dikenal dengan sebutan ikan kambing. Karena memiliki kesukaan menyantap rumput, keberadaannya diharapkan "membantu'' Pemkab mengendalikan pertumbuhan eceng gondok. Saat ini, paling tidak 60% permukaan rawa telah dipenuhi eceng gondok.

"Kami akan terus berusaha memberantas tanaman itu secara biologis. Memang butuh waktu lama, tetapi cukup efisien,'' ujar Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan
(DPP) Ir Warnadi MM, Kamis (17/1).

Ikan kambing pernah dikembangkan di Danau Kerinci, Jambi dan relatif berhasil "melawan'' eceng gondok. Dia mengemukakan, jumlah eceng gondok di Rawapeni sudah jauh melebihi ambang batas. Semestinya, tanaman itu akan membantu menjaga kestabilan air bila jumlahnya tidak lebih dari 10% permukaan rawa. Kehadirannya sekarang bukan lagi membantu, melainkan justru berubah menjadi gulma.

"Bila jumlahnya tak sampai sepuliuh persen, eceng akan membantu menjaga kestabilan air agar tetap jernih dan kaya oksigen. Tetapi di atas itu, air justru akan keruh dan miskin oksigen. Pergerakan oksigen di air terganggu oleh akar-akar eceng yang mirip gurita,'' jelas Ketua Ikatan Alumni Undip Cabang Kabupaten Semarang itu.

Warnadi mengungkapkan, pilihan mengembangkan ikan kambing lantaran dilandasi dua pemikiran. Pertama, ikan itu tidak menimbulkan dampak kimia yang merugikan kualitas hayati rawa. Kedua, jika sudah dewasa ikan grasscap merupakan jenis ikan konsumsi.

"Mirip pepatah, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Ikan itu, selain untuk mengurangi pertumbuhan eceng juga sangat baik dikonsumsi.'' Penaburan benih bekerja sama dengan Pemprov Jateng.

Warnadi menyatakan, bila ingin cepat terkendali maka jumlah ikan kambing yang ditebar berjumlah besar. Paling tidak, setahun dibutuhkan 100.000 benih. Ongkos untuk itu diperkirakan juga tidak mahal, karena nilai per ekor benih grasscap hanya sekitar Rp 300.

gambar; bibit ikan grascarp di kolam.

"Rawapening memiliki luas total 2.500 hektare. Dibutuhkan paling tidak seratus ribu ekor per tahun.''

Penebaran benih grasscap, jelas dia, harus diikuti dengan pemberantasan model lain misalnya mengangkat eceng dari rawa. Jika cuma mengandalkan ikan kambing, akan butuh waktu lama. Apalagi jika sudah besar ikan ini biasanya akan ditangkap nelayan.

"Jika cuma mengandalkan ikan, kemungkinannya berat. Harus dibarengi pemberantasan model lain. Misalnya ditempuh melalui padat karya. Warga sekitar dibayar untuk membantu mengangkat enceng.''

Hanya saja, biaya untuk proyek padat karya semacam itu diakuinya amat besar. "Kami berharap ada perhatian lebih dari Pemprov. Kami sebenarnya beruntung, ada Rawapening yang tercipta secara alami. Coba kalau dibandingkan dengan biaya yang mesti dikeluarkan saat membangun Waduk Gajahmungkur atau bendungan-bendungan lain. Rawapening hanya butuh biaya untuk memberantas eceng gondok.'' (F3-71j) Suara Merdeka, Senin, 21 Januari 2002 Semarang & Sekitarnya

gambar; rekor mancing grasscarp

Panen Ikan di Kolam Tando Harian Pembangkit Listrik Tenaga Air Timo


Perawatan PLTA
BEREBUT "BERKAH" SEDIMENTASI RAWA PENING
Jumat, 9 Oktober 2009 | 11:30 WIB
Oleh Antony Lee

Sinar matahari menyengat tubuh, Kamis (8/10) siang, di Kolam Tando Harian Pembangkit Listrik Tenaga Air Timo. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat ratusan lelaki yang bergumul dengan air dan lumpur di dalam kolam itu. Mereka meraup ikan.

Sebagian menebar jala atau mengeduk dengan jaring kecil. Ada yang hanya kebagian lumpur. Akan tetapi, lebih banyak lagi yang mendapat ikan.

Semakin siang, jumlah warga yang datang terus bertambah. Sepeda motor berjajar di tepi jalan aspal sempit menuju kolam penampungan di Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang itu. Begitu padatnya kendaraan yang parkir membuat lalu lintas tersendat panjang. Apalagi banyak pula yang memarkir kendaraannya serampangan hingga menutup jalan.

"Saya dapat sembilan ekor ikan braskap dengan berat rata-rata dua kilogram," kata Budi Saryanto (28), yang ditemui di tepian kolam seluas 13.000 meter persegi itu.

gambar; ikan mas hasil mancing PLTA jelog

Di pagar pemisah kolam, dia menggantung dua ekor ikan braskap berukuran besar. "Tujuh ekor laku seharga Rp 30.000 per ekor," ujar Budi.

Sejak pagi hari Budi menyambangi kolam itu bersama dua rekannya, Fuis (28) dan Yanto (28). Mereka adalah nelayan dari Desa Cikal di Tuntang, sekitar 13 kilometer dari Desa Tlompakan. Fuis dan Yanto berendam di kolam yang baunya lumayan menusuk hidung, sedangkan Budi bertugas memasarkan ikan.

Bagi mereka, hasil penjualan tengah hari itu melampaui modal awal Rp 10.000 per orang untuk membayar tiket masuk.

Tiga tahun lalu, kegiatan serupa berlangsung saat musim kemarau di Timo. Mereka masing-masing mengantongi hasil bersih Rp 50.000 per orang. Kini, Budi memperkirakan tiap orang dapat membawa pulang Rp 100.000. Jauh lebih besar dari pendapatan harian mereka yang Rp 20.000 sebagai nelayan Rawa Pening.

Bahkan, ada pula warga yang sukses mendapat ikan berukuran super, yakni 10 kilogram-13 kilogram. Selain tiga sekawan itu, ada sekitar 10.000 orang yang diperkirakan berada di sekitar kolam tando harian (KTH) itu. Sebagian kecil menceburkan diri, sisanya melihat dari atas.

Budi Prawoto (50) dan Yonathan Budianto (50), dua pengusaha bengkel di Salatiga yang hobi mancing, hanya melihat saja tempat mereka berburu diserbu warga. Mereka tidak setiap tahun dapat menyaksikan pemandangan demikian.

gambar; ikan grasscarp hasil mancing PLTA jelog

"Pengurasan kolam biasanya ketika tingkat sedimentasi tinggi. Setelah warga selesai mencari ikan, kami baru mengeruk sedimentasinya. Tradisi mencari ikan di sini ada sejak PLTA Timo beroperasi," ujar Ketua Koperasi Karyawan PLTA Timo, Samsudin. Menurut dia, sedimentasi dikurangi guna menambah daya tampung kolam. Semula, ikan di kolam itu hanya hanyutan dari Rawa Pening, tetapi lalu dipelihara.

PLTA Timo beroperasi mulai 1962 untuk memperkuat produksi listrik dari PLTA Jelok yang beroperasi sejak 1938, sekitar tiga kilometer dari sana.

Semula pengurasan kolam tiap lima tahun sekali, lalu menjadi tiga tahun sekali. Namun, sedimentasi tetap tinggi, seolah tiada yang mengurusnya. Mungkin, boleh jadi memang tidak ada yang serius menanganinya.

gambar; kolam PLTA jelog










Ini berita lg dari Suara Merdeka
SM/Basuni HMENCARI IKAN: Ribuan orang mendatangi PLTA Jelok di Tuntang, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10) untuk melihat proses pengurasan kolam penampungan air. Mereka juga beramai-ramai menangkap ikan di kolam tando tersebut. (30)


UNGARAN- Ribuan orang datang berduyun-duyun memadati kolam tando Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok di Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10). Pasalnya, pada hari itu dilakukan pengurasan kolam penampungan air dan pengerukan sedimen di PLTA tersebut.

Senior Supervisor PLTA Jelok Timo, Bibit Sugiyono mengatakan, kegiatan pengurasan itu dilakukan dalam rangka perawatan kompleks PLTA tersebut.

Pengurasan kolam sebenarnya ditentukan dua tahun sekali, namun karena sejumlah hal dan pertimbangan, pelaksanaan yang semula dijadwalkan tahun 2008, ditunda dan baru bisa dilaksanakan pada tahun ini.

’’Perhitungannya memang dua tahun sekali, tetapi hal itu juga melihat kondisi dan kebutuhan yang ada,” jelasnya.

Proses pengeringan kolam dilakukan mulai pukul 09.00 dan memakan waktu hingga beberapa jam. Kali terakhir PLTA Jelok dikuras pada tahun 2006 lalu. Pengurasan kolam PLTA yang beroperasi sejak tahun 1937 itu membuat ribuan orang yang datang juga berlomba-lomba mencari ikan yang ada di kolam tersebut.

Suci (24), warga Salatiga yang juga salah seorang pengunjung mengaku senang melihat proses pengurasan kolam karena bisa dijadikan hiburan tersendiri. Dia mengaku datang ke tempat itu karena diajak oleh teman sekantornya.

Budi Saryanto (28) pengunjung lainnya mengatakan, kesempatan itu dipergunakan untuk menangkap ikan dengan menggunakan jaring. Warga Kaliwungu, Kabupaten Semarang itu mengaku mendapat sembilan ekor ikan breskap dan tujuh ekor di antaranya berhasil dia jual Rp 30.000 per ekor. Pria yang sehari-hari menjadi nelayan di Rawapening tersebut mengatakan, keuntungannya kemarin lebih banyak dibanding penghasilannya menangkap ikan di Rawapening yang hanya berkisar Rp 20.000 per hari. (H53-76)

202 hektar sawah tergenang luapan air rawapening

gambar; sawah pinggir jalan raya Ambarawa-Banyubiru yang tergenang luapan rawapening, hanya pematangnya saja yang terlihat, menjadi tempat mancing musiman setiap musim hujan, dimana ikan nila, mujahir dan ikan nilem (wader ijo) rawapening pada naik ke sawah untuk bertelur dan mencari makan di sawah yang subur kaya plangton dari busukan jerami setelah panen, pemancing tinggal parkir motor dipinggir jalan trus langsung lempar pancing, asik, pemandangan indah hawanya sejuk dan segar, ada yang jualan jajanan yang dipikul, mendatangi para pemancing, ngilangin suntuk diantara rutinitas bekerja seharian

UNGARAN-HUMAS : Akibat luapan air Rawa Pening di musim penghujan ini, 202 hektar areal pertanian disekitarnya tergenang air. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Semarang Ir Urip Triyogo MM di Ungaran, Senin (9/2) siang menjelaskan areal pertanian yang tergenang itu terletak di desa Tambakboyo dan Bejalen Kecamatan Ambarawa seluas 55 hektar, desa Rowosari Tuntang 30 hektar dan di Kecamatan Banyubiru seluas 117 hektar yang tersebar di tiga desa.

Dijelaskan, tanaman padi yang terendam itu berumur 1-1,5 bulan dan dikhawatirkan akan rusak atau puso. “Bila genangan air tidak surut dan menggenang hingga sepekan, potensi padi menjadi puso sangat besar. Kenyataannya, curah hujan dalam beberapa hari terakhir ini cukup tinggi,” kata Urip.
Dari hasil pemantauan, pihak Distanbunhut akan mengusulkan bantuan benih bagi petani yang areal persemaian bibitnya ikut terendam. Seperti yang terjadi di desa Rowosari Tuntang, lahan persemaian bibit padi yang dibuat setelah masa panen rusak karena terendam air. “Usulan bantuan akan diajukan ke Pemprov Jawa Tengah dan perubahan APBD Kabupaten Semarang 2009,” tambahnya lagi.
Luapan air Rawa Pening itu terjadi diperkirakan karena sedimentasi di dasar rawa dan populasi enceng gondok yang sangat banyak dan tidak terkendali. Upaya pengerukan lumpur dari dasar rawa dan pembersihan enceng gondok diakui membutuhkan dana besar dan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Sementara itu dari data Badan Pengelola Sumber Daya Air Jragung-Tuntang, tinggi permukaan air Rawa Pening di pos pemantauan Candi mencapai 463,12 meter diatas permukaan laut (dpl). Titik puncak ketinggian adalah 463,30 meter dpl. Menurut koordinator satuan kerja Rawa Pening, Kuristiyanto keadaan ketinggian air itu membawa situasi dilematis untuk menyeimbangkan potensi kerawanan banjir wilayah atas dan bawah. Jika tidak dibuang, air akan menggenangi areal pertanian di wilayah atas bahkan bisa mengancam pemukiman penduduk. Sementara jika dibuang ke bawah dengan volume besar, bisa semakin memperparah banjir di wilayah bawah diantaranya Demak dan sekitarnya.(*/junaedi)

Sumber : http://www.semarangkab.go.id

Thursday, November 26, 2009

enceng gondok jadi potensi di rawapening?

Banyak nelayan bukitcinta rawapening beralih profesi menjadi pencari enceng gondok. Pengahasilan menjadi pemanen enceng gondok ini lebih lumayan dari pada mencari ikan. Sebabnya ikan sudah langka sedangkan enceng gondok tetap melimpah. Rata-rata setiap orang bisa mendapat 6 ikat tangkai enceng gondok sehari, kalau satu ikat tangkai enceng gondok dihargai Rp.7500, maka dengan enam ikat enceng gondok per hari mereka mendapatkan Rp 45.000 per hari. Lumayan bisa menghidupi keluarga sederhana di rawapening.

Tangkai enceng gondok yang di petik adalah dipilih tangkai yang panjang, ini berdasarkkan permintaan pengrajin enceng untuk kerajinan tangan, makanya pemetik harus memilih satu persatu enceng gondok yang paling tinggi. Tidak mudah memang menariki satu persatu enceng gondok dari koloninya yang akarnya saling mengikat, makanya rata-rata nelayan enceng ini hanya mendapat 6 sampai 7 ikat perhari.

Selain untuk bahan kerajinan, enceng gondok juga menjadi berkah buat nelayan yang mencari gambut untuk dijadikan bahan pupuk. Gambut rawapening ini berasal dari pembusukan enceng gondok yang mati dan mengendap dirawa. Gambut ini kemudian di keduk dan diangkat menggunakan perahu, kemudian dikeringkan dan dicampur kapur untuk dijadikan kompos. Tempat pendaratan gambut ini ada di tuntang dan bukit cinta, dimana banyak juga nelayan yang hidupnya bergantung pada pekerjaan ini.

Manfaat ekologis lain dari keberadaan enceng gondok ini antara lain adalah menghambat pertumbuhan ganggang rawa yang super expansive (hydrilla & cabomba sp) dengan menutupi akses sinar matahari ke dasar rawa. Ganggang ini akan berkembang cepat dirawa yang dangkal seperti rawapening (rata-rata kedalaman 2 m) dimana sinar matahari menjadi kunci utama pertumbuhan ganggang ini, dan akan memenuhi kolom air rawa bila tidak ada penutup permukaan air seperti enceng gondok.

Manfaat ekologis enceng gondok lainnya adalah bahwa akar enceng gondok yang membentuk serabut merupakan tempat persembunyian dan tempat mencari makan juvenil udang dan juvenil ikan. Dimana anak udang dan ikan ini adalah pencari makan di dekat permukaan. Hal in dibuktikan dengan melimpahnya rebon di rawa pening, dimana pencari rebon ini menjaring rebon di akar akar enceng gondok. Selain itu juga juvenil nila dan mujahir sangat melimpah di rawa pening. Tapi tidak tahu, ikan nila yang besar sudah jarang, mungkin sudah terlalu banyak jaring yang dipasang dirawa untuk menangkap ikan yang mau beranjak dewasa, dan banyaknya jaring yang melanggar aturan, yaitu jaring bermata lembut banyak digunakan oleh nelayan serakah yang tidak peduli lagi dengan keberlangsungan kehidupan rawa.

berikut adalah foto contoh pemanfaatan enceng gondok untuk kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi; (rini ml)

Monday, November 23, 2009

Bulus Rawapening untuk Kesehatan

bulus hasil buruan di perairan Rawapening, kawasan Banyubiru, Ambarawa, kini mulai dilirik sebagai bahan menu masakan sup. Tidak hanya menjadi santapan biasa. Lebih dari itu, menjadi menu makanan kesehatan.

Binatang dengan batok pembungkus tubuh itu, tidak sulit untuk dimasak. Setelah dipotong lehernya, dimasukkan ke dalam air hangat. Selanjutnya, gumpalan daging, empedu, paru, jantung, dan seisi perut diambil.

Daging dan jeroan sebelum dijadikan sebagai bahan masakan, terlebih dulu direbus dengan rempah-rempah khusus. Sesuai resep membuat sup, ditambah jahe dan sedikit air jeruk nipis, maka jadilah sayur kuah siap santap.

’’Ada yang minta dimasakan sup empedu dan paru bulus yang berkhasiat penyembuhan asma dan menurunkan kolesterol,’’ kata juru masak Yadi, sambil menunjukkan sajian sup dan hot plate bulus.

Menurutnya, jantung bulus dapat membuat bugar, lemaknya yang tercampur dalam kuah, untuk menghaluskan kulit (sering jadi bahan kosmetik), dan menghilangkan rasa gatal-gatal.
Dagingnya dapat meningkatkan vitalitas kejantanan. Batoknya (pembungkus tubuhnya) biasa dijadikan sebagai bahan hiasan. Karena itu, binatang ini memiliki nilai ekonomi. Harga bulus yang dibeli dari nelayan Rawapening Rp 50.000/kg.

Menu yang tersedia di RM Onion Jl Diponegoro 286 Ungaran, setiap porsi dapat dinikmati untuk dua orang dengan harga Rp 30.000.


Tanpa Tulang

Hasil masakan lain yang diciptakan dalam upaya memasarkan tangkapan nelayan Rawapening adalah belut tanpa tulang yang disajikan dalam kemasan hot plate. Selain itu, juga disajikan kepiting dan ikan bakar.

Untuk hot plate belut tanpa tulang, setiap porsi dijual dengan harga Rp 15.000. Setiap porsi belut maupun bulus dihidangkan untuk dua orang. Ramuan masakan dihidangkan sebagai menu yang menyehatkan kesehatan.

Sambil menunggu pesanan, kosumen dapat melihat cara masak ala Jepang dan China. Bahkan, dapat menyaksikan bulus yang masih segar dikolam sebagai penampung hasil tangkapan nelayan.

Bulus, belut, dan jenis sea food, bahannya diperoleh dengan cara membeli langsung ke nelayan. Ini dilakukan setiap hari dengan tujuan agar bahan yang dihidangkan selalu segar.’’Untuk menjaga keaslian rasa daging bulus, kami tidak melakukan penangkaran. Kesegaran kondisi binatang hasil tangkapan nelayan sangat berarti bagi kesehatan,’’ tutur Yadi. (Priyonggo-37) 05 Juni 2008

disadur dari : Suara Merderka

BERITA BULUS DARI JOGJA

Kedaulatan Rakyat 25 April 2008

Bulus, adalah nama familiar dari kura-kura yang hidup di perairan air tawar atau sungai. Sebutan raja bulus, mungkin pantas diberikan kepada H Afandi (53). Bapak enam orang anak yang tinggal di Cokrodiningratan No 22 Jetis, Yogya ini sudah sejak tahun 1970-an senang berburu bulus, hampir di semua sungai di Yogya dan Klaten.
Bulus itu diburunya dengan senar pancing nomor 100 dengan dua mata kail di ujungnya, yang diberi umpan precil (anak katak -red). Tahun 1980-an, Afandi mulai menjual bulus yang didapatnya ke pembeli yang ingin mengonsumsi daging dan memanfaatkan minyaknya. Selanjutnya di tahun 1988, ia pun mencoba membuka warung sate bulus di pertigaan timur Jalan Kranggan, yang ternyata laku hingga sekarang.
Ide membudidayakan bulus di samping rumahnya muncul di era 1996. ”Saat itu harga bulus sedang bagus-bagusnya, di pasaran satu ekor bisa sampai 14 ribu hingga 16 ribu dolar. Saya khawatir akan habis kalau hanya diburu, lalu saya mulai membudidayakannya,” tutur Afandi, yang juga hobi menekuni musik dan ketoprak ini.
Berbekal dua indukan bulus jantan dan 10 bulus betina dari Kali Progo, mulailah Afandi menjadi peternak bulus. Ilmunya didapat dari pengalaman gagal berkali-kali, sampai akhirnya ia benar-benar bisa membudidayakannya. ”Bulus ini nama ilmiahnya Trionix cortila javanese, yang belum termasuk hewan yang dilindungi,” ujarnya.
Kolam budidaya bulus di rumahnya tergolong sempit. Hanya berukuran 20 X 8 meter, berbentuk bak memanjang dan bertingkat (trap). Di bawah kolam diberi pasir. Sesekali bulus-bulus itu tampak di permukaan. ”Warna bulus tergantung dari kondisi airnya. Kalau dari Kali Progo cenderung coklat, seputar sungai di Kaliurang dan Kali Bedog warnanya hitam kelam,” sebutnya.
Menurut Afandi, bulus betina bertelur pertama kali umur 2-3 tahun sebanyak 24 butir, yang ukurannya sebesar bola pingpong. Umur 3-4 tahun bertelur 40 butir dan 10 tahun bisa ratusan butir. Di alam, keberhasilan menetasnya 30-40 persen, tapi Afandi berhasil membuatnya menjadi menetas 100 persen. ”Kolam saya yang lain berada di Cebongan, Sleman, karena kolam di rumah sudah tidak cukup,” akunya.
Afandi tak cuma melayani pembelian bulus hidup, yang dijualnya Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu/kg, tapi juga produk ikutannya. Seperti tempurung bulus, untuk bahan kerajinan dan lukisan. Lalu minyak bulus dan sabun bulus, yang dipesan oleh pengusaha spa dan salon-salon kecantikan. ”Hampir semua bagian tubuh bulus laku dijual, kecuali usus terakhir yang dekat kelamin dan kandung kemihnya,” timpalnya.



SATE N TONGSENG BULUS



Februari 11, 2009 oleh jogjakini

Bulus biasanya dipelihara karena keeksotikannya. Binatang yang mempunyai rumah tebal dan keras ini sangat lamban bergerak. Di balik semua itu, Bulus bisa menjadi menu yang unik, sate bulus dan tongseng bulus. Hanya satu tempat yang bisa ditemui hidangan menu bulus ini di Yogyakarta. Anda penasaran? Atau merasa aneh dengana menu yang tidak lumrah ini?

Jika anda ingin mengobati rasa penasaran, bisa saja datang ke warung makan sate dan tongseng Mbak Yanti yang ada di jalan Kranggan. Begitu pesan, bahan sate atau tongseng Bulus yang telah dipersiapkan langsung diramu. Bumbu-bumbu hamper sama, hanya untuk sate mungkin agak terasa pedas. Ini mungkin untuk sedikit mengalahkan amis yang mengikuti sate bulus yang ada. Memang rasanya agak beda dengan sate kambing atau ayam, lebih empuh, dan ada sedikit amis menyertainya. Ujung-ujungnya, enak juga dan pasti habis. satu porsi dengan lima tusuk kecil untuk sate bulus dihargai Rp 15.000,00. Tongsengnya, lebih rendah, Rp 12.000,00.

Yanti yang kini menjaga warung ini mengaku, kakeknya Pak Ali mengawali jualan bulus ini sekitar 15 tahun lalu. Warung itu sempat diwariskan ayahnya, Bapak Affandi dan kini dirinya yang menunggui warung sate Bulus ini. Dalam sehari, rata-rata ada 5-6 pelanggan yang dating. Bulus yang disiapkan tidak tentu, kadang 1 ekor, kadang 2 ekor tergantung ukuran bulus tersebut, rata-rata 3 kilogram.

Selain menikmati rasanya, biasanya orang mencari bulus karena kasiatnya. Kepercayaan pelanggan, banyak manfaat yang dikandungnya. Contohnya, minyaknya bisa untuk perawatan kulit supaya halus, empedu bulus untuk obat asma, sesak nafas, obat sakit gigi. Batok tempurung untuk mempercepat sambung tulang dan yang paling istimewa adalah tangkur bulus yang bermanfaat untuk obat kuat lelaki. Biasanya pelanggan banyak yang mencari ini. Walau begitu, harga tangkur ini lebih mahal, sekitar Rp 25.000,00. Selain di Jalan Kranggan, untuk mendapatkan bulus yang masih mentah atau hidup bisa mendatangi Pusat Penampungan dan budidaya bulus di COkrodiningratan JT II/ 221 Yogyakarta. Selamat berburu! ***

Warung Makan Sate dan Tongseng Bulus Mbak Yanti
Alamat : Jalan Kranggan Kios Nomor 1 Yogyakarta
Jam buka : 10.00 hingga 21.00 WIB
Phone : 081904267957 dan 081804345173


TERNAK BULUS


A. Pengenalan Jenis

Nama labi-labi (Trionyx sinensis) juga dikenal untuk spesies Trionyx cartilagineous dan spesies Trionyx lainnya. Labi-labi atau bulus dipelihara di dalam kolam. Awalnya, bulus termasuk hama, sama seperti belut. gabus, dan komoditi penting lainnya. Bulus memiliki nilai ekonomis tinggi. Hampir seluruh bagian tubuh labi-labi dapat dimanfaatkan, baik daging maupun cangkangnya. Selama ini pasokan labi-labi dipenuhi dari tangkapan alam karena hasil budi daya belum signifikan jumlahnya.



Bentuk tubuh bulus oval atau agak lonjong, dan pipih. Tubuhnya tanpa sisik dan berwarna abu-abu kehitaman. Kerapas dan plastron (bagian bawah tubuh yang tidak tertutup cangkang) terbungkus kulit yang liat.
Pastronnya berwarna putih pucat hingga kemerah-merahan. Kulit tertutup oleh perisai yang berasal dari lapisan epidermis berupa zat tanduk. Hidungnya memanjang membentuk tabung, seperti belalai. Labi-labi tidak bergigi, tetapi rahangnya sangat kuat dan tajam.


B. Kebiasaan Hidup di Alam

Labi-labi bernapas dengan paru-paru (pulmo), baik yang baru menetas maupun labi-labi dewasa.

1. Kebiasaan makan

Labi-labi memakan ikan dan udang kecil di alam. Di kolam, labi-labi bisa diberikan pakan berupa cincangan ikan atau isi perut ternak ruminansia.

2. Kebiasaan berkembang biak

Di alam, labi-labi umumnya berpijah antara Juli—Desember. Labi-labi berkembang biak dengan cara bertelur (ovivar). Setiap kali labi-labi bertelur mencapai 10-30 butir. Telur berwarna krem dengan diameter antara 2-3 cm. Telur-telur yang dikeluarkan ditimbun dalam tanah berpasir selama lebih kurang 45-50 hari pada suhu 25-30 derajat C.

C. Memilih Induk
Labi-labi yang hendak dipijahkan di kolam pemijahan harus memenuhi persyaratan khusus, di antaranya umur dan ukuran. Selain itu, perbandingan antara induk jantan dan betina harus tepat. Adapun ciri induk jantan dan betina yang baik sebagai berikut.


Ciri induk yang berkualitas
Betina
- Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
- Ukuran tubuhnya lebih kecildibandingkan jantan.
- Ekor induk betina pendek dan tidak menonjol keluar dari cangkangnya.
- Bentuk cangkangnya lebih bulat dan lebih tebal.
- jarak antar kedua kaki belakang lebih panjang, karena erat kaitannya dengan proses bertelur.
- Alat kelamin tumpul.




jantan
- Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
- Ukuran tubuhnya lebih besar dibandingkan betina, kadang-kadang dua kali besarnya.
- Ekor induk jantan lebih panjang dan menonjol keluar dari cangkangnya.
- Bentuk cangkangnya lebih oval dan dan lebih tipis.
- jarak antar kedua kaki belakang lebih pendek.
- Alat kelamin lancip.



D. Pemijahan ahan di Kolam

Dalam pemijahan labi-labi di kolam perlu diperhatikan faktor-faktor penting lainnya, seperti konstruksi kolam, persiapan kolam, dan proses pemijahannya.

1. Konstruksi kolam
Kolam pemijahan labi-labi berbentuk persegi panjang. Luas kolam tergantung lahan yang tersedia, umumnya antara 200-300 m2 dengan ketinggian pematang 1,5-1,75 m. Dasar kolam sebaiknya dilapisi pasir, sedangkan dinding pematang diusahakan tembok.

Pada salah satu sisi kolam dibuatkan kandang peneluran seluas 2 M X 2 m x 1 m sebanyak 3 buah. Kandang ini dihubungkan dengan jembatan penghubung yang terbuat dari anyaman bambu atau papan. Tujuan pembuatan jembatan adalah untuk memudahkan induk labi-labi masuk ke dalamnya. Kandang peneluran sebaiknya dilengkapi peneduh untuk melindungi telur dari sengatan matahari langsung dan hujan. Dasar kandangnya dilengkapi dengan pasir halus setebal 20 cm agar induk mudah menyembunyikan telur-telurnya.

2. Persiapan kolam
Kolam pemijahan dikeringkan 3-5 hari. Kandang tempat pemijahan labi-labi diupayakan terkena sinar matahari langsung agar bibit penyakit mati. Selanjutnya, induk dimasukkan ke dalam kolam. Adapun perbandingan induk jantan dan betina yang dikawinkan 1: 4. Artinya, seekor pejantan labi-labi diharapkan bisa mengawini 4 ekor induk labi-labi betina.


3. Pemijahan

Pemijahan biasanya terjadi pada 7-12 hari setelah penebaran induk. Induk akan bertelur pada malam hari, antara pukul 20.00-02.00. Seekor induk betina biasanya akan menghasilkan 30-40 butir telur. Bentuk telur labi-labi seperti bola pingpong berwarna krem dan ukuran telur biasanya berdiameter antara. 1-3 cm.


Telur yang selesai dikeluarkan oleh induk harus segera dipindahkan ke dalam ruang inkubator atau ruang penetasan telur. Sementara telur yang di dalam timbunan pasir bisa dikeluarkan dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti sekop.


E. Penetasan Telur dan Perawatan Benih

Telur-telur disusun secara teratur di dalam kotak penetasan yang diisi pasir setebal 5 cm. Kotak tersebut berukuran 40 cm x 6o cm x 5 cm. Selain itu, disediakan juga baskom berisi air yang dipasang sejajar dengan permukaan lantai. Baskom ini akan dibutuhkan oleh tukik setelah keluar dari cangkang.

Selama proses penetasan, suhu ruangan diusahakan antara 29-33 derajat C dengan kelembapan 85-95%. Telur akan menetas setelah 40-45 hari pada suhu 30 derajat C. Namun, kadang-kadang telur akan menetas setelah 60 hari.
Setelah menetas, tukik langsung mencari air yang sudah disediakan di dalam baskom tersebut. Berat tukik yang menetas berkisar 7-9,3 g/ekor. Tukik yang baru menetas belum membutuhkan pakan dari luar karena menyerap sari makanan dari yolk sack yang dibawanya sejak lahir.

F. Pendederan

Setelah hari kelima, tukik ditangkap untuk dipindahkan ke kolam pendederan. Luas kolam pendederan biasanya sekitar l00-600 m2, tergantung lahan yang tersedia. Dasar kolam pendederan berpasir dengan ketinggian air berkisar 50-75 cm. Kolam yang airnya terlalu dalam, akan menyulitkan labi-labi untuk mengambil oksigen langsung dari udara.
Kepadatan kolam penebaran 45-50 ekor /m2• Lama pemeliharaan tukik di kolam tersebut selama 2 bulan. Selama pemeliharaan, tukik diberi pakan berupa cincangan daging ikan. Pakan yang diberikan sebanyak 5% dari berat labi-labi yang ditebarkan. Pakan tersebut ditempatkan di tepian kolam, pada batas permukaan air kolam. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore hari.


Labi-labi suka berjemur sehingga 1/3 bagian kolam diberi tanaman peneduh berupa eceng gondok. Selain itu, beberapa bagian kolam diberi tempat berjemur dari papan yang bisa mengapung.


G. Pembesaran

Luas kolam pembesaran bervariasi antara 100-600 m2. Kolam yang terlalu besar akan menyulitkan pengontrolan, sedangkan kolam yang
terlalu kecil kurang efektif karena jumlah labi-labi muda yang ditebarkan jumlahnya sedikit. Ketinggian air kolam pembesaran minimal 75 cm.

Tukik yang ditebarkan ke dalam kolam pembesaran berumur 2 bulan. ukurannya seragam. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari agar tukik tidak stres. Kepadatan penebaran yaitu 8-10 ekor/m2.

Untuk mencapai ukuran 300-600 g/ekor, seekor tukik membutuhkan waktu 3-6 bulan. Panen biasanya dilakukan setelah dipelihara selama 6-7 bulan dengan berat 700-800 g/ekor. Untuk mencapai
ukuran dewasa, tukik membutuhkan waktu 2-3 tahun. Pembesaran lebih lanjut hanya dilakukan untuk menghasilkan induk labi-labi sebab ukuran konsumsi yang paling dikehendaki konsumen yaitu 700-800 g/ekor, kurang dari 1 kg.



SPECIALIS MANCING BULUS
Kedaulatan Rakyat

SUATU siang, di tahun 2006. Kuat melempar kail berumpan usus ayam di genangan waduk PLTA Mrica di Desa Pucang, Barat Kota Banjarnegara. Tak berselang lama, tali senar pancing bergerak. Dari gerakannya yang tak terlalu agresif, Kuat yakin mata pancing ditelan oleh kura-kura atau bulus.
Tempat Kuat memancing, sebelum menjadi genangan waduk mulai 1989, merupakan kedung atau cekungan Sungai Serayu yang sangat dalam. Orang menyebutnya dengan nama Kedung Celong. Kuat terperanjat sekaligus girang saat bulus yang terkena pancing tadi menyembul ke permukaan air selama beberapa detik. Ukurannya luar biasa besar, dengan garis tengah sekitar satu setengah meter. Selanjutnya Kuat pinjam perahu milik penambang pasir yang mangkal di tempat itu. Perahu dikayuh pelan-pelan mengikuti arah tarikan senar pancing. Rupanya, bulus menuju arah hilir. Sampai di wilayah Desa Blambangan atau sekitar dua kilometer dari Pucang, bulus raksasa itu menepi.Dibantu seseorang, akhirnya bulus bisa diangkat ke darat. Ketika ditimbang, bobot bulus mencapai 105 kilogram.
Tertangkapnya hewan air raksasa bernama ilmiah Amyda cartilaginea tadi, tak pelak membuat gempar. Kuat kemudian menjualnya kepada seseorang di Purbalingga dengan harga Rp 1,5 juta.
‘Jajahan’
Memancing bulus, ditekuni Kuat sejak muda hingga usianya yang sekarang mendekati 80 tahun. Daerah ‘jajahan’ utamanya adalah Sungai Serayu yang kini jadi genangan waduk PLTA Mrica. Dari pekerjaannya tadi, warga Dusun Gondang Desa Semampir barat kota Banjarnegara itu, mampu menghidupi keluarganya. Bahkan, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. ”Dua anak saya sekarang masih kuliah di Yogya. Semua berkat bulus,” kata Kuat, Kamis (16/7) dengan nada bangga.
Demi bulus, hari-hari Kuat nyaris dihabiskan ditepi genangan waduk. Sering pula ia harus begadang semalaman di situ dengan berbekal umpan seperti usus ayam, bekicot, katak kecil dan lainnya. Rupanya, alam cukup bersahabat dengan lelaki tua tadi, terbukti populasi bulus cukup tinggi. Sehingga, ia tak pernah pulang dengan tangan hampa.
Bulus hasil pancingan Kuat, untuk ukuran kecil hingga 20 kilogram, biasanya dijual Rp 10 ribu/kilogram. Sedangkan bulus dengan bobot 20 kilogram ke atas harganya sekitar Rp 15 ribu/kilogram. Perbedaan harga itu, menurut Kuat, karena semakin tua bulus, kandungan minyaknya makin sedikit. Pembeli bulus, kebanyakan rumah makan, disusul kolektor dan penggemar daging bulus.
Ditanya pendapatan rata-rata per bulan, Kuat tak tak mau menyebut. Namun, Slamet (30) warga Desa Pucang yang kini mencoba mengikuti jejak Kuat sebagai pemancing bulus, mengatakan, pendapatan seniornya itu mencapai jutaan rupiah per bulan.
”Hitungan saya didasarkan pada perolehan bulus pak Kuat sehari-hari. Buktinya, dia bisa membiayai kuliah anak-anaknya,” katanya. (Mad)-s

Tambak Ikan di Bejalen Mangkrak

Muara kali njalen, muara kali torong, rawapening, proyek Rp 555 Juta Dinilai Gagal
AMBARAWA - Proyek senilai Rp 555 juta untuk pembangunan kantor pendederan benih dan calon induk ikan serta tambak kolam seluas lima hektare di Dusun/ Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, mangkrak.

Sejak diresmikan 2006 hingga saat ini kelompok tani ikan Mina Dadi Rejo yang mengelola tambak ini belum mendapat hasil yang menggembirakan. Bahkan sebagian mereka menilai proyek tersebut gagal. Terlebih lagi kantor di dekat tambak tersebut sama sekali tidak terawat oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan). Ada dua pompa penyedot air seharga puluhan juta rupiah juga dalam kondisi rusak.

’’Kantor ini sejak diresmikan Bupati Semarang tidak ada yang ngurusi. Saya malah dipasrahi kuncinya. Kalau ada yang kotor ya kadang saya bersihkan. Saya tidak mendapat upah apa-apa selama ini,’’ kata Saparman, anggota Mina Dadi Rejo, kemarin.

Saparman saat ini membuka usaha parkir dan warung makan di dekat tambak untuk para pemancing. Menurut dia jika mengandalkan hasil tambak, tidak mencukupi kebutuhan hidup. Tahun kemarin, dia hanya mendapat Rp 117 ribu dari hasil tambak selama setahun. ’’Setiap bulan, saya setor parkir Rp 250 ribu ke kepala desa. Dana ini bisa untuk kegiatan sosial,’’ terangnya.

gambar; rawapening dari pinggir jalan Bejalen

Menurut dia, jumlah pemancing di Kali Bejalen dan Kali Torong dekat tambak relatif banyak pada Sabtu dan Minggu mencapai 40 orang. Sedangkan Senin-Jumat sekitar 13 orang.

Saparman menegaskan, proyek tersebut gagal karena kelompok tani selama tiga tahun ini belum mendapat keuntungan yang layak. Tambak kolam seluas lima hektare ini adalah lahan milik 37 anggota Mina Dadi Rejo. ’’Tahun kemarin tambak diberi benih ikan karper dan bawal sebanyak 1,25 kuintal setiap kolam. Di sini ada 10 kolam, enam dikelola kelompok dan empat dikelola pemrintah (Disnakan),’’ terang Saparman.
Terbawa Banjir Namun ikan-ikan yang hendak dipanen tahun kemarin semuanya ludes terbawa arus banjir dari Rawapening. Setiap kolam diperkirakan ada 47.000 ekor yang hilang. Saparman mengatakan, hanya pada musim hujan tambak kolam ini diisi ikan. Dan pada kemarau mulai Agustus nanti digunakan menanam padi.

Pariyanto (50) nelayan di Bejalen mengatakan, jika dikelola secara bagus mestinya tambak tersebut bisa mendatangkan hasil. ’’Ini karena pengurus kelompok yang kurang bisa mengelola,’’ tuturnya. Menurut dia, pada tabur ikan pertama masih ada sedikit untung. Sejak ganti pengurus pada 2007 praktis tidak mendapat hasil. ’’Saat ini ada beberapa kolam yang disewakan dengan biaya Rp 500 ribu/ kolam. Dana ini entah ke mana larinya,’’ jelas Pariyanto.

Kepala Disnakan Ir Agus Purwoko Djati melalui Kabid Produksi Ir Nurhadi Subroto MM mengatakan, proyek tersebut tidak gagal, hanya kurang optimal hasilnya. ’’Kami memberi hibah Rp 77,5 juta kepada kelompok, meliputi benih ikan dan pakan. Selanjutnya mereka mengembangkan,’’ jelas Nurhadi.

Ia menjelaskan, kepengurusan kelompok Mina Dadi Rejo saat ini tidak solid. Pihaknya berencana melakukan pembinaan. Terkait kantor dan peralatan yang rusak, menurut dia tidak ada anggaran perawatan. ’’Lahan sudah dikuasai mereka, ini akan kami lakukan pembinaan lagi,’’ tegas Nurhadi. Menurut dia, dana Rp 555 juta ini berasal dari APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2006. (H14-16)

disadur dari : SUARA MERDEKA korannya Jawa Tengah

Sunday, November 22, 2009

enceng gondok menerjang karamba rawapening

nelayan rawapening belum bisa mencari ikan
jutaan ikan di rawapening mati

bawen - Nelayan di pinggir Danau Rawapening tepatnya di Dusun Sumurup, Kelurahan Asinan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, hingga kemarin belum bisa mencari ikan di tengah rawa. Pasalnya, barisan eceng gondok masih mengepung danau tersebut.

Tak hanya nelayan, petani karamba juga mengalami kegetiran yang sama. Tak kurang jutaan ikan baik yang ada di karamba mati. Padahal, ikan-ikan tersebut sudah siap panen.

Seperti yang dialami Subari (55), ikan yang berada di sembilan (dari 12) karambanya, mati. Ikan yang mati tersebut jenis Bawal, Nila, dan Grasscarp.

''Kematian ikan secara bertahap Minggu (25/ 3) dan Senin (26/ 3). Ini disebabkan perpindahan eceng gondok dari Tuntang dan Banyubiru terbawa angin kencang ke sini,'' kata dia, kemarin. Ditemui saat mengambil sisa ikan yang tewas, Subari mengaku menderita kerugian hingga Rp 45 juta. Selama tujuh tahun menggeluti usaha budidaya ikan di karamba, kejadian hebat baru dialaminya hari-hari kemarin. ''Padahal ikan yang mati sebagian sudah berumur lima bulan atau siap panen,'' ungkap pria yang biasa disapa Pak Rabun ini.
Ia menjelaskan, ada lebih dari seratus pengusaha ikan karamba. Menurutnya, ia menderita kerugian sekitar 27.000 ikan di sembilan karamba. Sehingga lanjutnya, diprediksi ada jutaan ekor ikan yang tak bisa bertahan hidup akibat bau busuk eceng. ''Belum lagi petani karamba di Tambakrejo Ambarawa juga mengalami hal ini,'' ungkapnya.

Harga ikan yang telah mati tersebut tentu turun secara drastis. Biasanya, Subari bisa menjual dengan harga Rp 8.000/ kg, kemarin hanya Rp 2.000/ kg. Ia mendesak pemerintah untuk segera mengatasi persoalan eceng gondok yang sangat meresahkan warga di sekitar danau.

Pemprov Kalah

Ketua Paguyuban Tani Sedyo Rukun Kasiyan menegaskan kegiatan Forum Rembug Rawapening disudahi saja jika tidak ada hasil yang nyata.

''Saya malu selalu diundang membahas permasalahan eceng gondok tapi tidak ada solusi nyata. Masak Pemprov dan Pemkab kalah sama eceng gondok?'' tandas Kasiyan, kemarin. Persoalan di rawa tersebut, lanjut dia, sangat kompleks dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Jika rawa tertutup eceng pekerja pencari kompos di Sumurup, Asinan, Bawen, juga tak bisa ke tengah danau.

Karena tergilas eceng peralatan nelayan seperti branjang dan icir penangkap udang rusak. ''Karamba juga banyak yang rusak diterjang eceng gondok yang disapu angin kencang beberapa malam lalu,'' tutur Kasiyan yang merangkap Komandan Satgas Rawapening.

Ia menjelaskan, ikan grasscarp atau ikan lembu pemakan eceng sulit diterapkan karena banyak yang diambil dan dipancing warga sekitar.

''Taruhlah ada ratusan orang dalam sehari yang memancing di sini. Dan kemungkinan setiap hari ada ikan lembu yang tertangkap, lama kelamaan habis,'' jelas dia. (H14-16)
SUARA MERDEKA
Rabu, 28 Maret 2007 SEMARANG

Thursday, November 19, 2009

PERANG enceng gondok vs ganggang rawapening

rawapening. Kajian tentang keberadaan enceng gondok atau bengok di rawapening perlu dilakukan. Untuk sementara ini saya coba menulis dari dua aspek, pertama dari sisi fungsi enceng gondok dalam perannya sebagai bagian dari ekosistim rawa, dan yang kedua dari segi efek yang ditimbulkan oleh keberadaan enceng gondok, segi baik dan buruknya bagi sekitar 3000 nelayan yang menggantungkan hidupnya dari rawapening.

Pertama. Enceng gondok adalah tumbuhan air yang pertumbuhannya sangat pesat, bila dibiarkan maka akan menutupi seluruh permukaan rawapening dan tidak akan menyisakan space untuk nelayan melemparkan jala maupun memasang jaring. Untung sekarang banyak nelayan yang berubah profesi sebagai pencari enceng gondok untuk bahan kerajinan, sehingga membantu mengontrol pertumbuhan enceng gondok. Enceng gondok mempunyai akar yang menggantung didalam air dan merupakan tempat persembunyian yang ideal buat jenis juvenil anak udang untuk menghindar dari pemangsa. Selain juvenil anak udang juga banyak juvenil anak ikan yang berlindung dari predator diantara akar enceng gondok ini. Memang juvenil ikan dan udang sukanya mencari makan didekat permukaan. Jadi akar enceng gondok ini membantu meningkatkan prosentase keselamatan regenerasi ikan dan udang. Sementara di permukaan enceng gondok menjadi surga bagi burung untuk mencari makan dan bersarang.
Regenerasi enceng gondok yang cepat juga diikuti dengan umurnya yang pendek, enceng yang mati akan terendapkan di dasar rawa menjadi gambut. Dan laju pengendapan gambut di rawapening ini juga relatif tinggi bila dilihat dengan skala waktu geologi, untuk mendangkalkan sebuah rawa. Untungnya lagi sekarang banyak nelayan yang mengambil gambut untuk pupuk sehingga membantu mengurangi laju pendangkalan.

Enceng gondok ini sering membuat koloni yang kuat dan luas, saling mengikat, kadang ada gambut yang naik kepermukaan disebabkan kandungan gas metan, terikat oleh akar enceng gondok dan membentuk seperti pulau enceng gondok yang apabila diinjak orang tidak tenggelam. Koloni enceng gondok ini sering terbawa angin musiman kemana angin mengarah dan menabrak menghacurkan semua yang dilewati, seperti branjang, karamba, jaring, gubuk semuanya ambruk diterjang masa enceng gondok yang masiv dan luas didorong oleh angin yang kuat.

Terkadang ada perahu orang mancing yang terjebak dijepit enceng gondok, pernah tetanggaku Mas Kasri maniak mancing, mancing pas musim angin, tiba-tiba terjepit di tengah tengah 2 koloni besar enceng gondok yang luas, yang berjalan terbawa angin, terperangkap sampai 3 hari 3 malam tidak bisa lepas dari enceng gondok, tau tau sudah ditengah-tengah eceng gondok, berteriak teriak sampai capek tidak ada yang mendengar, akhirnya menangis sambil narikin enceng gondok satu persatu. Padahal Mas Kasri itu preman, badan bertato hihe.... nangis juga sama enceng gondok. Makanya kalo mancing pas musim angin jangan ke tengah, lihat kanan kiri, ojo mandeng iwak wae mbul!!!

Satu hal yang sering luput dari pengamatan dan pertimbangan ekologis tentang keberadaan enceng gondok adalah adanya ganggang rawa(Hydrilla verticillata). Ganggang rawapening ini juga mempunyai pertumbuhan yang sangat cepat dan super ekspansive, tidak kalah dengan enceng gondok. Sebabnya adalah memang merupakan jenis ganggang super ekspansive dan sebab kedua adalah kejernihan dan kedangkalan rawa yang menyebabkan intesitas cahaya matahari membantu maksimal pertumbuhan ganggang ini. Bagi yang pernah memelihara jenis cabomba aquatica di aquarium akan tahu berapa pesatnya pertumbuhan jenis ganggeng ini, aku dulu pernah juag memelihara di akuarium, tak kasih lampu, luar biasa, tiap minggu aku harus ngobok obok akuarium untuk memotongi, membuang dan mengatur ulang tanaman ini di akuarium, karena kalau tidak, dalam 2 minggu akuariumku sudah penuh dengan ganggang ini. Makanya jenis ganggang ini tidak dirokemendaiskan untuk tanaman hias akuarium, karena kecepatan tumbuhnya yang luar biasa.

Pernah suatu kali aku berenang di rawapening, kaki tidak leluasa berenang karena tersangkut sangkut ganggang jenis Hydrilla. Saya chek kedalaman air memakai galah dayung bambu sekitar 4 meteran, dan ganggan ini tumbuh sampai 30 cm dari permukaan. Bayangkan bahwa dasar rawa pening adalah sebuah hutan ganggang yang rapat dengan panjang sulur-sulurnya sekitar 4 meteran, dengan cabang yang lebat. Untuk ada enceng gondok yang menutupi hampir separo rawapening sehingga membantu menutupi ganggang dari matahari, sehingga membantu mengontrol isi rawa dari keganasan ganggang ekspansive ini. Ganggang dijumpai tumbuh pesat di rawapening, terutama dangkalan yang jarang tertutup enceng gondok.

Bayangkan jika 90% kolom air rawapening dipenuhi ganggang ini, kemudian pada malam hari ganggang ini akan menghisap habis kandungan oksigen di rawa pening!!! mau kemana ikan mencari oksigen, untung ada enceng gondok, yang membantu membunuh ganggang super ekspansive ini, dengan menutup akses matahari ke dalam air.

Kalau tidak ada enceng gondok, mungkin rawapening sudah penuh dengan ganggang ini, dan ikan rawa hanya akan didominasi ikan labirin yaitu betok, gabus (betik & kutuk) dan ikan yang mengambil oksigen ke permukaan, yaitu sepat (iwak idolamu kabeh mbul...). Mujair akan musnah, grascarp, tawes tidak bisa hidup kalau malam hari oksigen habis oleh disedot ganggang, memang sih.... kalau siang memproduksi osigen, tapi kalau malam menghabiskannya. Sekali lagi 'untung ada enceng gondok'

Gambar;
kiri; Cabomba aquatica, menyukai tempat berarus dan jernih seperti di depan muara kali muncul
kanan; Hydrilla verticillata, mendominasi hampir 90% dasar rawapening

Memang enceng gondok ini banyak dikeluhkan oleh pencari ikan dan para pemilik keramba. Kadang kalau lagi musim angin, enceng gondok yang membentuk koloni besar dan luas ini akan berjalan tertiup angin dan akan menerjang dan menghancurkan apa saja yang dilwati, termasuk branjang dan karamba. Selain itu juga menutup akses menuju karamba dan branjang, serta menghilangkan space untuk menjala, memasang jaring, memasang icir dan juga bagi pemancing akan kesusahan menuju spot terdalam yang banyak ikannya.

Ya sudah daripada pusing pusing memikirkan bagaimana caranya menghilangkan enceng gondok di rawa, isu-nya butuh dana 900 Milyar untuk membersihakan enceng gondok, mending ditata aja pertumbuhan enceng gondok ini dan sukuri aja keberadaan enceng gondok hiha.....

gambar; ilustrasi ikan rawa pada siang hari dimana air kaya oksigen, dan ikan pada malam hari kita oksigen air rawa habis disedot ganggang rawa hydrilla (From Junk et al., 1997), dari gambar tersebut menunjukkan bahwa jenis ikan labirinlah yang akan sangat survive dirawa (betok, gabus, sepat), ini menjelaskan mengapa ikan nilem rawa atau wader ijo hanya mengumpul disekitar mata air rawa yang kaya oksigen seperti bukit cinta atau di muara kali muncul yang kaya oksigen. Menjelaskan juga kenapa ikan tawes dan grascarp tidak mau tinggal dirawapening, karena tawes, grasscarp, serta tombro adalah ikan yang membutuhkan oksigen tinggi baik siang maupun malam. Ikan ikan jenis ini hanya ada didepan muara sungai muncul, atau disekitar rawa yang dalam dan sering tertutup enceng gondok, yang tidak ditumbuhi ganggang yang menghabiskan oksigen pada malam hari.

gambar; tabel kandungan oksigen rawa VS jam (From Jedicke et al., 1989), menunjukan penurunan kadar oksigen yang sangat drastis pada jam 9 malam, dan pucaknya jam 6 pagi, hanya ikan labirin (ikan gabus, betok, sepat) yang mampu bertahan dikondisi yang hampir zero oksigen ini, ikan nila kalau malam akan mengambil oksigen kepermukaan, capek kasihan. Ini menjelaskan kenapa karamba nila di rawa pening ikannya susah besar, walaupun diberi porsi makan sama dengan ikan nila yang dipelihara di karamba kedung ombo, yaitu; ikan karamba rawa pening kalau malam kecapekan megap megap dipermukaan mencari oksigen, stress sehingga susah besar. Kalau ikan di luar karamba mungkin bisa lari ke daerah mata air rawa atau di muara sungai muncul yang kaya oksigen dimalam hari, tapi kalo yang dikaramba? kasihan memang nasib ikan karamba rawapening, yang pemilik karambanya tidak tahu dimana seharusnya memasang karamba. Yaitulah konsekwensi dari rawa dangkal, jadi habitat hydrilla yang haus oksigen dimalam hari, tapi lumayan hampir 60% permukaan rawa ditutup enceng gondok, yang membantu membatasi perkembangan hydrilla dengan menutup akses sinar matahari ke dasar rawa.

jadi point yang bisa di ambil adalah;
- enceng gondok mengotrol pertumbuhan ganggang rawapening hydrilla sp,
- enceng gondok secara tidak langsung memperbaiki kandungan oksigen rawa dimalam hari,
- rawa pening adalah jenis rawa dangkal, dimana merupakan habitat ganggang hydrilla & cabomba sp (penyedot habis oksigen air rawa dimalam hari)yang bisa mendominasi dan memusnahkan habitat ikan pelagis non labirin kalau permukaan rawa tidak ditutupi enceng gondok untuk menutup akses matahari yang dibutuhkan ganggang hydrilla untuk berkembang biak
- rawa pening pada umumnya kurang bagus untuk karamba (realita menjawab),
- kandungan oksigen dalam air di rawapening habis dimalam hari
(rini ml)

Wednesday, November 18, 2009

ndog iwak nilem telur ikan rawapening

rawapening. Telur ikan nilem sudah terkenal dan termashur, kalau rasanya paling gurih sedunia, sensasi di lidah sungguh luar biasa, gurihnya bukan main. Dimanakah dan kapankah anda bisa menikmati telur ikan nilem ini? Jawabnya; hanya disekitar rawa pening pas akhir november-awal desember (cari dipasar ambarawa, salatiga banyak yang jual)
Ndok iwak rowopening ki akeh akehe pas sasi november akhir tekan awal desember. Bertepatan karo usum moyek (musim ikan rawapening bertelur, ikan naik ke sungai trus masuk sawah untuk bertelur) bisanya bulan november minggu ke 3-4, sampai desember mingggu 1.
Telur ikan yang melimpah adalah telur ikan nilem atau telur wader ijo, karena ikan inilah banyak yang ditangkap nelayan rawa pening pada akhir november. Kalau pas musim moyek ini, nelayan Rowo Boni yang khusus menangkap ikan moyek, bisa membawa pulang ikan 2.5 kwintal tiap harinya selama 3 hari, pas puncaknya moyek. Hari moyek ini bisa diketahui dari sehari sebelumnya, yaitu bila hari ini hujan lebih dari 5 jam, misalnya siang hujan sampe sore, kemudian malamnya hujan lagi sampai tengah malem, maka dijamin besok pagi ikan rawa sudah berkumpul di muara sungai muncul, kali muncul, Kali Torong, Kali Njalen. Anda tinggal masuk sungai ditanggung merasakan sensasi ditabraki ribuan ikan nilem atau wader melem alias wader ijo.
Gambar;
1. telur ikan nilem goreng
2. ikan nilem / wader ijo rowo / unjar melem

Makanan khas rowopening

rawa pening. Makanan khas rawapening ; wader goreng, manuk rowo goreng, manuk peruk ungkep, manuk nyamnyaman panggang, burung sawah goreng, mujair lombok ijo, jangan iwak loh, kutuk bumbu kuning, swike kodok ijo, rawon dleg, kendo urang, urang goreng, peyek urang, gimbal urang, tahu gimbal, dleg goreng, pecel welut, pecel belut, belut goreng, cetul goreng, nila lombok ijo, sate kerang rowo tuntang, tongseng bulus, pepes nila, pepes mujahir, pepes ikan gabus, pelas welut, gablok pecel, pecel semanggi, cempli goreng, gatot keong, sepat siem goreng, betik goreng, wader ijo goreng, oseng oseng enceng gondok doyan pora? nek doyan tak gaweke hihe....
Paling favorit menurutku: pelas welut, manuk peruk ungkep trus di goreng, kendo urang, jangan iwak loh (kutuk disanten bumbu kuning pedes), nila santen lombok ijo sego anget kepul kepul........ ngeleh dewe aku...........
gambar;
1. betik goreng, gurih pol, ati ati ri ne ojo dikremus
2. wader & urang goreng teles, gurih tenan
3. sepat siem goreng, gurih banget
4. kutuk pepes pedes bumbu kuning, karo sego anget ditanggung tanduk
5. rawon kutuk, lheb godek
6. welut goreng basah (api penggorengan kecil), dibuat pecel welut, pecel lele jauuuhhh..
7. nila bakar
8. sate kerang tuntang, yahud..
9. pepes iwak bumbu kuning











Tuesday, November 17, 2009

Njolo nang pinggir rowopening

Aku wis a tau njolo karo adi ponakaanku nang pinggir rowo pening, ora pas usum moyek. Lokasine muara kali galeh, nek sko jembatan kali galeh Mbanyubiru kae langsung belok kiri numpak montor astrea, liwat galengan sing sebelah kiri, bablas terus nganti tekan muarane kali galeh, montor iso tekan pinggir rowo, dalane lumayan lah, ning nek usum udan ojo rono nggo montor, ditanggung nuntun karo nangis.
Tekan kono aku langsung nguncalke jolo nang rowo, ning joloku kesangkut sangkut patokan karo icir, dadi males aku nguncalke jolo. Angel iwak, ming entuk sepat blirik karo anakan mujair lembut lembut. Padahal bayanganku nek nang muara ki akeh iwake, n iwake gede gede. Putus asa... nongkrong wae nang pinggir rowo karo nonton wong ngrowo lagi njikui icir. Wonge ngrowo mau ngomong karo koncone 'Saiki kok akehmen Kontul sobo kene to'.....
Asem i, aku diuneke Kontul......... ketoke tidak rela nek ono wong liyo golek iwak nang kono......... pancen wong ngrowo akeh sing nggateli. Tak pendeliki wae....emange rowone mbahmu po? ..... Bali aku, karo jengkil.
Kok iso yo...posesive banget karo rowopening... Bandang tak pikir pikir.. pancen abot dadi nelayan nang rowopening ki.. lha piye... iwak wis angel digoleki, sing nggolek iwak yo wis kakean. Yo wis lah.. tak dongake wae mugo mugo do iso nguripi anak bojone sko nggolek iwak nang ngrowo....

Thursday, November 12, 2009

Nasib Nelayan Rawapening

SEJAK dulu hingga sekarang, perkembangan eceng gondok (Eichornia crassipes) di Rawapening, Kabupaten Semarang, tak pernah bisa diatasi. Akibatnya, perkembangbiakannya yang makin meluas mengganggu aktivitas nelayan di wilayah Kecamatan Tuntang, Bawen, Ambarawa, dan Banyubiru Kabupaten Semarang. Berikut tulisan Yunantyo Adi Setyawan mengenai persoalan tersebut.

Jika dilihat sekilas, keberadaan Rawapening ini wajar-wajar saja. Namun jika kita terjun ke dalamnya, danau tersebut tampaknya sedang ''sakit''. Akibatnya, warga yang menggantungkan hidupnya dari Rawapening, termasuk ribuan petani dan nelayan dari empat kecamatan di wilayah Kabupaten Semarang pun menangis bertahun-tahun.

Demikian pengakuan Kasiyan (42), warga Desa/Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang kepada Suara Merdeka, Selasa malam (9/2).

"Sekarang, untuk memperoleh ikan sekilo per hari sulitnya bukan main. Hal itu disebabkan mulai sesaknya lahan untuk mencari ikan," kata dia yang menjadi Ketua Kelompok Nelayan Upoyo Wino dan Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Desa Tuntang tersebut.

Kesesakan ini terjadi akibat makin banyaknya jumlah nelayan di sekitar Rawapening yang mencari ikan atau mendirikan keramba-keramba ikan. Mereka yang mencari ikan di danau tersebut, memang tak hanya nelayan di sekitar Rawapening, akan tetapi juga nelayan liar.

Mereka sama-sama menggantungkan hidupnya pada Rawapening. Akibatnya, terjadilah persaingan dalam mencari ikan, sehingga rawan konflik.

Meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang telah menerbitkan aturan tentang pembagian zona penangkapan ikan melalui Perda Nomor 25 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Budi Daya Ikan di Rawapening (sebagai perbaruan Perda Nomor 16 Tahun 1999), fakta di lapangan ternyata masih menunjukkan banyaknya nelayan yang melanggar batas zona yang ditentukan.

Pertanyaan yang muncul, mengapa hal itu terjadi? Jawaban klasiknya adalah karena desakan kebutuhan untuk mendapatkan ikan, sehingga perda-perda yang ada hanya menjadi cetak biru saja.

Pengamat politik lokal masalah Rawapening Prof Dr Kutut Suwondo (Dekan Fisipol UKSW) mengatakan, permasalahan sosial ekonomi yang muncul di seputar Rawapening terjadi ketika daya dukung tidak mampu lagi menjadi penyangga tuntutan penduduk, pengusaha, dan tuntutan pembangunan yang terus meningkat.
Dari catatan Paguyuban Tani Nelayan Sedyo Rukun pada 1999, ada 1.503 tani nelayan yang mencari dan membudidayakan ikan di danau tersebut.Namun Kutut Suwondo mencatat, bahwa pada 2002, perkembagan nelayan dan pekerja lain melonjak dua kali lipatnya atau menjadi sekitar 3.000 orang. Apabila tiap anggota keluarga nelayan dan pekerja lain ada tiga orang, maka paling tidak terdapat 9.000 orang yang menggantungkan hidupnya pada Rawapening! Mereka berasal dari sepuluh desa, yakni Desa Asinan, Bejalen, Banyubiru, Kebondowo, Rowoboni, Rowosari, Sraten, Kesongo, Lopait, dan Desa Tuntang. Kesepuluh desa itu tersebar di empat kecamatan yakni Kecamatan Banyubiru, Bawen, Ambarawa, dan Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Ketua Forum Rembuk Rawapening Wibowo (36) mengatakan, masalah penangkapan ikan oleh nelayan memang terjadi sejak lama. Sebelum tahun 1991, sebenarnya masyarakat sekitar Rawapening memiliki rasa kepemilikan yang besar terhadap Rawapening.

Namun setelah diterbitkan Perda Nomor 16 Tahun 1991 tentang Pengelolaan Sumber Daya Ikan di Rawapening, ternyata hampir 70 % pengguna alat tangkap ikan tidak diperbolehkan (dilarang).

Mereka yang tadinya dilarang, merasa bersalah mengambil sikap mendiamkan saudara-saudaranya yang mengambil ikan dengan alat tangkap racun dan setrum. Pemakaian alat yang merusak lingkungan ini terjadi hingga tahun 1999. Akibatnya, penyalahgunaan kedua alat tangkap itu sempat merajarela beberapa saat.

Akibat masyarakat tidak memperdulikan penyalahgunaan alat tangkap setrum dan racun itu, pendapatan ekonomi masyarakat turun drastis. Bila biasanya pendapatan nelayan dalam mencari ikan rata-rata mencapai Rp 15 ribu/hari, dengan merajalelanya penggunaan racun dan setrum, turun menjadi Rp 5 ribu/hari. Di lain pihak, penghasilan mereka yang memakai alat tangkap racun dan setrum mencapai Rp 50 ribu/hari. (91m)

Disadur dari koran SUARA MERDEKA
Jumat, 11 Februari 2005 SEMARANG

Wednesday, November 11, 2009

cetul rowo pening gurih, ayo budidaya cetul

dikutip dari majalah TROBOS
isine; tentang wader cempli, iwak cempli, iwak deduk, unjar gondok, ikan cere, wader cethul, iwak cetul, ikan cetul, guppy jowo

Dulu diemohi, kini jadi santapan berkelas
gambar; cetul jantan (berwarna) dan cetul betina / iwak deduk / cempli wedok / unjar gondok / wader cempli

Ukurannya mungil, jauh dari ukuran bangsa ikan lainnya yang umum dikonsumsi. Rata-rata panjang tubuh cuma 2 cm dengan diameter perut 0,2 cm. Banyak ditemui di perairan tawar seperti sungai di pedesaan atau di rawa-rawa berlumpur. Dulu, ikan yang oleh sebagian orang Jawa dinamai ?cethol? ini tak banyak menarik perhatian, bahkan diemohi oleh kebanyakan orang. Tapi jangan salah, belakangan si imut acap hadir di atas meja berdampingan dengan sajian pesta di hotel-hotel atau ada dalam daftar menu restoran berbintang, terutama di kawasan DIY dan Jawa Tengah.
Muh Yusuf, pemilik CV Makarya Mina, produsen pangan olahan cethol asal Tuntang, Kabupaten Semarang menuturkan, ikan yang bernama lain Celili-Mence dan Gajah Mina ini kian populer lantaran rasanya yang renyah, lezat lagi berprotein tinggi. Menemani nasi pulen dalam makan siang atau makan malam bersama sambal tomat bisa jadi menu pilihan. Selain itu, cethol pantas juga untuk camilan di waktu santai. Salah satu kelebihannya yang membuatnya makin dicari adalah sajiannya yang kering sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu relatif panjang, dapat pula jadi buah tangan.


gambar: cetul jantan/cempli lanang/guppy

Sayangnya, produksi bahan baku belum mampu mengimbangi tingginya permintaan. Menurut Yusuf, kebutuhan pasar lokal, yang meliputi Kab Semarang dan Salatiga setidaknya 4 kuintal/hari. Untuk memenuhi permintaan wilayah tersebut, ikan didatangkan dari Rawa Pening, Tuntang. Tetapi, karena hanya mengandalkan hasil tangkapan, dari lokasi ini baru mampu menghasilkan paling banter 3 kuintal/hari. Maka untuk menjawab pasar yang 60% telah ada dalam genggamannya itu, Yusuf pun mendatangkan cethol asal Kali Serayu, Wanadadi Banjarnegara. Kendati, menurut pengamatan pria ini kualitas cethol asal Serayu tidak sebaik asal Rawa Pening. Tapi tak ada jalan lain, ?Meski sedikit lembek, masih dapat mengimbangi cethol Rawa Pening.? Ditambahkan pria yang telah menggeluti bisnis ini 8 tahun, produksi cethol asal Kali Serayu mampu mencapai 5 kuintal saban harinya, lebih tinggi dibandingkan Rawa Pening.
Belum lagi banyaknya permintaan yang belum dipenuhi, seperti Jakarta, Semarang, Magelang, Temanggung, Solo dan Jogja. ?Pangsa pasarnya luar biasa!? kata Yusuf, yang menekuni bisnis ini sejak 8 tahun silam. Pria yang sering disapa Abang Cethol ini punya mimpi, andaikan cethol dibudidayakan. ?Coba saja budidaya, insyaAllah pasar ekspor juga bisa digarap,? ia mengurai asa. Terlebih kualitas air di rawa mulai tidak baik, akibat pencemaran. Ia khawatir jumlah tangkapan makin hari makin surut.

gambar; pecel wader & cetul/cempli/deduk/cere

Mau yang Sederhana atau Kedap?
Pengolahan panganan cethol yang garing dijelaskan Ahmad Hanif, Manajer produksi CV Makarya Mina. ?Ada dua macam, yang sederhana dan yang kedap udara,? istilah Hanif. Untuk yang pertama, memang cukup sederhana. Ikan cukup dilumuri tepung berbumbu, kemudian digoreng. Meski demikian, perlu teknik khusus untuk menghasilkan kudapan cethol yang garing, renyah dan awet. Perlu diperhatikan kadar air, ?Supaya tidak nggedibel (menggumpal-red),? ia beralasan. Akibatnya bisa berpengaruh pada daya simpan panganan tersebut. Lama menggoreng pun perlu kejelian. ?Jangan terlalu matang. Cukup sepertiga matang,? ujarnya berbagi tips. Menurut Hanif, minyak yang terkandung masih panas sehingga proses pematangan ikan masih berlanjut meski sudah diangkat dari penggorengan.

01 August 2008
Cethol: Yang Imut dari Rawa Pening

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Agustus 2008