Saturday, December 5, 2009

pembesaran patin di sekitar rawapening?

Yah... patin lagi.. patin lagi... pasti pakan lagi deh masalahnya.... PEMKAB gak kreatif.... niru niru proyek Prop. Jambi.... apa bedanya dengan lele?... pakan akan jadi kendala deh..... apa PEMKAB tidak mempertimbangkan kalo harga pelet bermutu sekarang sudah sampe 5000 lebih per kilonya? padahal konversi pakan mencapai 1:4 sampai 1:5, yang artinya untuk membesarkan patin dari bibit menjadi patin berat 1 kg butuh pelet 4 sampe 5 kilo?

Sementara kalau ngasih pakannya tidak teratur, atau seadanya duit untuk beli pelet, atau pemberian pakan kurang tidak sesuai aturan, misalnya sehari cuma dikasih makan sekali, atau dikasih pelet-peletan murah palsu yang banyak dijual di pasar dan tidak jelas kandungan gizinya, maka konversi pakan ke dagingnya menjadi tinggi, bisa 1:7 atau lebih, bisa-bisa si patin cuma besar kepalanya aja, mirip lele kurang gizi, waktu budidaya bisa jadi molor lama untuk mencapai target berat ikan...... ya kecuali cuma iseng pelihara 200 ekor, bisa dicarikan bangkai tikus atau bangkai ayam, tapi kalau diandalkan sebagai pengahasilan utama? bisa jual sawah deh peternak pembesarannya........

Kenapa gak ikan grass carp dan ikan tawes aja? yang jelas2 pakan gratis dan berlimpah? lebih sesuai dengan alam skitar rawapening? kalau niru Prop. Jambi susah, alamnya lain, mereka bikin karambanya di sungai besar yang tambahan suplay makanan organik dari alam cukup tinggi...
Tapi kita lihat aja, bagaimana nanti perkembangannya, berikut beritanya;

=====================================================================================
Usaha Pembesaran Ikan Patin Prospektif
* Akan Dibagi Tiga Kawasan Kampung Patin


UNGARAN - Pemkab Semarang melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) akan mengalokasikan dana alokasi khusus (DAK) 2010 dari pusat bidang perikanan untuk usaha pengembangan ikan Patin. Saat ini dana pendamping APBD II masih dibahas bersama DPRD. Kepala Disnakan Ir Agus Purwoko Djati melalui Kabid Produksi Ir Nurhadi Subroto MM mengatakan hal itu, Jumat (6/11). ’’Berdasar hasil konsultasi dengan Departemen Kelautan dan Perikanan, sebagian DAK dialokasikan untuk pengembangan ikan Patin. Usaha pembesaran ikan ini sangat prospektif,’’ kata Nurhadi, kemarin.

Dijelaskan, pemerintah pusat mendukung usaha tersebut karena komoditas unggulan rangking pertama untuk air tawar adalah ikan Patin. Nurhadi menjelaskan, karakteristik wilayah Kabupaten Semarang terdapat lahan yang selalu tergenang persis seperti di Jambi. ’’Di Jambi ikan Patin tumbuh dengan produktif,’’ ungkapnya.

Rencananya, Pemkab akan mewujudkan Kampung Patin menjadi tiga kawasan. Pertama, kawasan pembenihan di Desa Ngrapah, Banyubiru. Kedua, kawasan pembesaran di perkolaman Ngampin Ambarawa serta Desa Banyubiru dan Ngrapah (Banyubiru). Selain itu di karamba di Asinan Bawen, Tambakboyo dan Bejalen (Ambarawa), serta Kebondowo dan Rowoboni (Banyubiru). ’’Yang ketiga kawasan pengolahan ikan Patin di Kebondowo dan Rowoboni,’’ terang Nurhadi.

Ikan Patin memiliki pertumbuhan yang cepat dan dapat mencapai ukuran tubuh yang besar. Daya tahan hidup sangat tinggi dan mampu hidup di kondisi air yang relatif jelek (oksigen rendah). Rasa daging akan semakin enak pada ukuran lebih dari 1 kilogram/ ekor. Harga ikan ini antara Rp 12 ribu hingga Rp 14 ribu/ kilogram di tingkat petani.
Diminati ’’Ikan ini diminati secara nasional dan internasional sehingga memiliki nilai ekonomis tinggi. Dengan demikian usaha pembesaran ikan Patin sangat prospektif,’’ tegas dia.

Dijelaskan, ikan Patin adalah jenis ikan yang semula hidup di sungai dan danau yang sangat dikenal masyarakat khususnya Sumatera dan Kalimantan dengan ciri khas dagingnya empuk dan enak. Seiring perkembangannya ikan ini bisa dibudidayakan dengan sumber benih hasil rekayasa teknologi pembenihan. ’’Di Kabupaten Semarang sudah ada usaha pembenihan yang mendukung budidaya ikan Patin,’’ terang Nurhadi.

Pihaknya pada 2008 melakukan ujicoba ikan Patin di kolam tergenang yaitu di Ngrapah Banybiru di kolam milik H Fathurrahman dengan ukuran 10x10x1,5 meter persegi. Selama 9 bulan berhasil memproduksi 1,4 ton. Selain itu di Desa Ngampin Ambarawa di kolam Sarmadi, di Asinan Bawen di kolam Ari Bowo, hasil menunjukkan tingkat ketahanan hidup dan pertumbuhan sangat baik meski di air yang dalam kondisi jelek.

’’Pemkab berobsesi wilayah Banyubiru dan Ambarawa yang banyak terdapat lahan marginal karena sering tergenang air cocok untuk kolam budidaya, serta perairan Rawapening untuk budidaya karamba ikan Patin,’’ jelas Nurhadi. (H14-16)
source; http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/11/07/87069/Usaha.Pembesaran.Ikan.Patin.Prospektif

1 comment:

  1. sulitnya perkembangan ikan patin di perairan irigasi persawahan apa sebanbya, apakah kondisi kolam yang dangkal, berapa standar kedalaman air untuk pembesaran ikan patin, girun sukaraja, kab. oku timur

    ReplyDelete