Monday, November 23, 2009

Tambak Ikan di Bejalen Mangkrak

Muara kali njalen, muara kali torong, rawapening, proyek Rp 555 Juta Dinilai Gagal
AMBARAWA - Proyek senilai Rp 555 juta untuk pembangunan kantor pendederan benih dan calon induk ikan serta tambak kolam seluas lima hektare di Dusun/ Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, mangkrak.

Sejak diresmikan 2006 hingga saat ini kelompok tani ikan Mina Dadi Rejo yang mengelola tambak ini belum mendapat hasil yang menggembirakan. Bahkan sebagian mereka menilai proyek tersebut gagal. Terlebih lagi kantor di dekat tambak tersebut sama sekali tidak terawat oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan). Ada dua pompa penyedot air seharga puluhan juta rupiah juga dalam kondisi rusak.

’’Kantor ini sejak diresmikan Bupati Semarang tidak ada yang ngurusi. Saya malah dipasrahi kuncinya. Kalau ada yang kotor ya kadang saya bersihkan. Saya tidak mendapat upah apa-apa selama ini,’’ kata Saparman, anggota Mina Dadi Rejo, kemarin.

Saparman saat ini membuka usaha parkir dan warung makan di dekat tambak untuk para pemancing. Menurut dia jika mengandalkan hasil tambak, tidak mencukupi kebutuhan hidup. Tahun kemarin, dia hanya mendapat Rp 117 ribu dari hasil tambak selama setahun. ’’Setiap bulan, saya setor parkir Rp 250 ribu ke kepala desa. Dana ini bisa untuk kegiatan sosial,’’ terangnya.

gambar; rawapening dari pinggir jalan Bejalen

Menurut dia, jumlah pemancing di Kali Bejalen dan Kali Torong dekat tambak relatif banyak pada Sabtu dan Minggu mencapai 40 orang. Sedangkan Senin-Jumat sekitar 13 orang.

Saparman menegaskan, proyek tersebut gagal karena kelompok tani selama tiga tahun ini belum mendapat keuntungan yang layak. Tambak kolam seluas lima hektare ini adalah lahan milik 37 anggota Mina Dadi Rejo. ’’Tahun kemarin tambak diberi benih ikan karper dan bawal sebanyak 1,25 kuintal setiap kolam. Di sini ada 10 kolam, enam dikelola kelompok dan empat dikelola pemrintah (Disnakan),’’ terang Saparman.
Terbawa Banjir Namun ikan-ikan yang hendak dipanen tahun kemarin semuanya ludes terbawa arus banjir dari Rawapening. Setiap kolam diperkirakan ada 47.000 ekor yang hilang. Saparman mengatakan, hanya pada musim hujan tambak kolam ini diisi ikan. Dan pada kemarau mulai Agustus nanti digunakan menanam padi.

Pariyanto (50) nelayan di Bejalen mengatakan, jika dikelola secara bagus mestinya tambak tersebut bisa mendatangkan hasil. ’’Ini karena pengurus kelompok yang kurang bisa mengelola,’’ tuturnya. Menurut dia, pada tabur ikan pertama masih ada sedikit untung. Sejak ganti pengurus pada 2007 praktis tidak mendapat hasil. ’’Saat ini ada beberapa kolam yang disewakan dengan biaya Rp 500 ribu/ kolam. Dana ini entah ke mana larinya,’’ jelas Pariyanto.

Kepala Disnakan Ir Agus Purwoko Djati melalui Kabid Produksi Ir Nurhadi Subroto MM mengatakan, proyek tersebut tidak gagal, hanya kurang optimal hasilnya. ’’Kami memberi hibah Rp 77,5 juta kepada kelompok, meliputi benih ikan dan pakan. Selanjutnya mereka mengembangkan,’’ jelas Nurhadi.

Ia menjelaskan, kepengurusan kelompok Mina Dadi Rejo saat ini tidak solid. Pihaknya berencana melakukan pembinaan. Terkait kantor dan peralatan yang rusak, menurut dia tidak ada anggaran perawatan. ’’Lahan sudah dikuasai mereka, ini akan kami lakukan pembinaan lagi,’’ tegas Nurhadi. Menurut dia, dana Rp 555 juta ini berasal dari APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2006. (H14-16)

disadur dari : SUARA MERDEKA korannya Jawa Tengah

1 comment: