Friday, November 27, 2009

Panen Ikan di Kolam Tando Harian Pembangkit Listrik Tenaga Air Timo


Perawatan PLTA
BEREBUT "BERKAH" SEDIMENTASI RAWA PENING
Jumat, 9 Oktober 2009 | 11:30 WIB
Oleh Antony Lee

Sinar matahari menyengat tubuh, Kamis (8/10) siang, di Kolam Tando Harian Pembangkit Listrik Tenaga Air Timo. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat ratusan lelaki yang bergumul dengan air dan lumpur di dalam kolam itu. Mereka meraup ikan.

Sebagian menebar jala atau mengeduk dengan jaring kecil. Ada yang hanya kebagian lumpur. Akan tetapi, lebih banyak lagi yang mendapat ikan.

Semakin siang, jumlah warga yang datang terus bertambah. Sepeda motor berjajar di tepi jalan aspal sempit menuju kolam penampungan di Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang itu. Begitu padatnya kendaraan yang parkir membuat lalu lintas tersendat panjang. Apalagi banyak pula yang memarkir kendaraannya serampangan hingga menutup jalan.

"Saya dapat sembilan ekor ikan braskap dengan berat rata-rata dua kilogram," kata Budi Saryanto (28), yang ditemui di tepian kolam seluas 13.000 meter persegi itu.

gambar; ikan mas hasil mancing PLTA jelog

Di pagar pemisah kolam, dia menggantung dua ekor ikan braskap berukuran besar. "Tujuh ekor laku seharga Rp 30.000 per ekor," ujar Budi.

Sejak pagi hari Budi menyambangi kolam itu bersama dua rekannya, Fuis (28) dan Yanto (28). Mereka adalah nelayan dari Desa Cikal di Tuntang, sekitar 13 kilometer dari Desa Tlompakan. Fuis dan Yanto berendam di kolam yang baunya lumayan menusuk hidung, sedangkan Budi bertugas memasarkan ikan.

Bagi mereka, hasil penjualan tengah hari itu melampaui modal awal Rp 10.000 per orang untuk membayar tiket masuk.

Tiga tahun lalu, kegiatan serupa berlangsung saat musim kemarau di Timo. Mereka masing-masing mengantongi hasil bersih Rp 50.000 per orang. Kini, Budi memperkirakan tiap orang dapat membawa pulang Rp 100.000. Jauh lebih besar dari pendapatan harian mereka yang Rp 20.000 sebagai nelayan Rawa Pening.

Bahkan, ada pula warga yang sukses mendapat ikan berukuran super, yakni 10 kilogram-13 kilogram. Selain tiga sekawan itu, ada sekitar 10.000 orang yang diperkirakan berada di sekitar kolam tando harian (KTH) itu. Sebagian kecil menceburkan diri, sisanya melihat dari atas.

Budi Prawoto (50) dan Yonathan Budianto (50), dua pengusaha bengkel di Salatiga yang hobi mancing, hanya melihat saja tempat mereka berburu diserbu warga. Mereka tidak setiap tahun dapat menyaksikan pemandangan demikian.

gambar; ikan grasscarp hasil mancing PLTA jelog

"Pengurasan kolam biasanya ketika tingkat sedimentasi tinggi. Setelah warga selesai mencari ikan, kami baru mengeruk sedimentasinya. Tradisi mencari ikan di sini ada sejak PLTA Timo beroperasi," ujar Ketua Koperasi Karyawan PLTA Timo, Samsudin. Menurut dia, sedimentasi dikurangi guna menambah daya tampung kolam. Semula, ikan di kolam itu hanya hanyutan dari Rawa Pening, tetapi lalu dipelihara.

PLTA Timo beroperasi mulai 1962 untuk memperkuat produksi listrik dari PLTA Jelok yang beroperasi sejak 1938, sekitar tiga kilometer dari sana.

Semula pengurasan kolam tiap lima tahun sekali, lalu menjadi tiga tahun sekali. Namun, sedimentasi tetap tinggi, seolah tiada yang mengurusnya. Mungkin, boleh jadi memang tidak ada yang serius menanganinya.

gambar; kolam PLTA jelog










Ini berita lg dari Suara Merdeka
SM/Basuni HMENCARI IKAN: Ribuan orang mendatangi PLTA Jelok di Tuntang, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10) untuk melihat proses pengurasan kolam penampungan air. Mereka juga beramai-ramai menangkap ikan di kolam tando tersebut. (30)


UNGARAN- Ribuan orang datang berduyun-duyun memadati kolam tando Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok di Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10). Pasalnya, pada hari itu dilakukan pengurasan kolam penampungan air dan pengerukan sedimen di PLTA tersebut.

Senior Supervisor PLTA Jelok Timo, Bibit Sugiyono mengatakan, kegiatan pengurasan itu dilakukan dalam rangka perawatan kompleks PLTA tersebut.

Pengurasan kolam sebenarnya ditentukan dua tahun sekali, namun karena sejumlah hal dan pertimbangan, pelaksanaan yang semula dijadwalkan tahun 2008, ditunda dan baru bisa dilaksanakan pada tahun ini.

’’Perhitungannya memang dua tahun sekali, tetapi hal itu juga melihat kondisi dan kebutuhan yang ada,” jelasnya.

Proses pengeringan kolam dilakukan mulai pukul 09.00 dan memakan waktu hingga beberapa jam. Kali terakhir PLTA Jelok dikuras pada tahun 2006 lalu. Pengurasan kolam PLTA yang beroperasi sejak tahun 1937 itu membuat ribuan orang yang datang juga berlomba-lomba mencari ikan yang ada di kolam tersebut.

Suci (24), warga Salatiga yang juga salah seorang pengunjung mengaku senang melihat proses pengurasan kolam karena bisa dijadikan hiburan tersendiri. Dia mengaku datang ke tempat itu karena diajak oleh teman sekantornya.

Budi Saryanto (28) pengunjung lainnya mengatakan, kesempatan itu dipergunakan untuk menangkap ikan dengan menggunakan jaring. Warga Kaliwungu, Kabupaten Semarang itu mengaku mendapat sembilan ekor ikan breskap dan tujuh ekor di antaranya berhasil dia jual Rp 30.000 per ekor. Pria yang sehari-hari menjadi nelayan di Rawapening tersebut mengatakan, keuntungannya kemarin lebih banyak dibanding penghasilannya menangkap ikan di Rawapening yang hanya berkisar Rp 20.000 per hari. (H53-76)

2 comments: