Thursday, November 26, 2009

enceng gondok jadi potensi di rawapening?

Banyak nelayan bukitcinta rawapening beralih profesi menjadi pencari enceng gondok. Pengahasilan menjadi pemanen enceng gondok ini lebih lumayan dari pada mencari ikan. Sebabnya ikan sudah langka sedangkan enceng gondok tetap melimpah. Rata-rata setiap orang bisa mendapat 6 ikat tangkai enceng gondok sehari, kalau satu ikat tangkai enceng gondok dihargai Rp.7500, maka dengan enam ikat enceng gondok per hari mereka mendapatkan Rp 45.000 per hari. Lumayan bisa menghidupi keluarga sederhana di rawapening.

Tangkai enceng gondok yang di petik adalah dipilih tangkai yang panjang, ini berdasarkkan permintaan pengrajin enceng untuk kerajinan tangan, makanya pemetik harus memilih satu persatu enceng gondok yang paling tinggi. Tidak mudah memang menariki satu persatu enceng gondok dari koloninya yang akarnya saling mengikat, makanya rata-rata nelayan enceng ini hanya mendapat 6 sampai 7 ikat perhari.

Selain untuk bahan kerajinan, enceng gondok juga menjadi berkah buat nelayan yang mencari gambut untuk dijadikan bahan pupuk. Gambut rawapening ini berasal dari pembusukan enceng gondok yang mati dan mengendap dirawa. Gambut ini kemudian di keduk dan diangkat menggunakan perahu, kemudian dikeringkan dan dicampur kapur untuk dijadikan kompos. Tempat pendaratan gambut ini ada di tuntang dan bukit cinta, dimana banyak juga nelayan yang hidupnya bergantung pada pekerjaan ini.

Manfaat ekologis lain dari keberadaan enceng gondok ini antara lain adalah menghambat pertumbuhan ganggang rawa yang super expansive (hydrilla & cabomba sp) dengan menutupi akses sinar matahari ke dasar rawa. Ganggang ini akan berkembang cepat dirawa yang dangkal seperti rawapening (rata-rata kedalaman 2 m) dimana sinar matahari menjadi kunci utama pertumbuhan ganggang ini, dan akan memenuhi kolom air rawa bila tidak ada penutup permukaan air seperti enceng gondok.

Manfaat ekologis enceng gondok lainnya adalah bahwa akar enceng gondok yang membentuk serabut merupakan tempat persembunyian dan tempat mencari makan juvenil udang dan juvenil ikan. Dimana anak udang dan ikan ini adalah pencari makan di dekat permukaan. Hal in dibuktikan dengan melimpahnya rebon di rawa pening, dimana pencari rebon ini menjaring rebon di akar akar enceng gondok. Selain itu juga juvenil nila dan mujahir sangat melimpah di rawa pening. Tapi tidak tahu, ikan nila yang besar sudah jarang, mungkin sudah terlalu banyak jaring yang dipasang dirawa untuk menangkap ikan yang mau beranjak dewasa, dan banyaknya jaring yang melanggar aturan, yaitu jaring bermata lembut banyak digunakan oleh nelayan serakah yang tidak peduli lagi dengan keberlangsungan kehidupan rawa.

berikut adalah foto contoh pemanfaatan enceng gondok untuk kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi; (rini ml)

No comments:

Post a Comment