Monday, November 23, 2009

Bulus Rawapening untuk Kesehatan

bulus hasil buruan di perairan Rawapening, kawasan Banyubiru, Ambarawa, kini mulai dilirik sebagai bahan menu masakan sup. Tidak hanya menjadi santapan biasa. Lebih dari itu, menjadi menu makanan kesehatan.

Binatang dengan batok pembungkus tubuh itu, tidak sulit untuk dimasak. Setelah dipotong lehernya, dimasukkan ke dalam air hangat. Selanjutnya, gumpalan daging, empedu, paru, jantung, dan seisi perut diambil.

Daging dan jeroan sebelum dijadikan sebagai bahan masakan, terlebih dulu direbus dengan rempah-rempah khusus. Sesuai resep membuat sup, ditambah jahe dan sedikit air jeruk nipis, maka jadilah sayur kuah siap santap.

’’Ada yang minta dimasakan sup empedu dan paru bulus yang berkhasiat penyembuhan asma dan menurunkan kolesterol,’’ kata juru masak Yadi, sambil menunjukkan sajian sup dan hot plate bulus.

Menurutnya, jantung bulus dapat membuat bugar, lemaknya yang tercampur dalam kuah, untuk menghaluskan kulit (sering jadi bahan kosmetik), dan menghilangkan rasa gatal-gatal.
Dagingnya dapat meningkatkan vitalitas kejantanan. Batoknya (pembungkus tubuhnya) biasa dijadikan sebagai bahan hiasan. Karena itu, binatang ini memiliki nilai ekonomi. Harga bulus yang dibeli dari nelayan Rawapening Rp 50.000/kg.

Menu yang tersedia di RM Onion Jl Diponegoro 286 Ungaran, setiap porsi dapat dinikmati untuk dua orang dengan harga Rp 30.000.


Tanpa Tulang

Hasil masakan lain yang diciptakan dalam upaya memasarkan tangkapan nelayan Rawapening adalah belut tanpa tulang yang disajikan dalam kemasan hot plate. Selain itu, juga disajikan kepiting dan ikan bakar.

Untuk hot plate belut tanpa tulang, setiap porsi dijual dengan harga Rp 15.000. Setiap porsi belut maupun bulus dihidangkan untuk dua orang. Ramuan masakan dihidangkan sebagai menu yang menyehatkan kesehatan.

Sambil menunggu pesanan, kosumen dapat melihat cara masak ala Jepang dan China. Bahkan, dapat menyaksikan bulus yang masih segar dikolam sebagai penampung hasil tangkapan nelayan.

Bulus, belut, dan jenis sea food, bahannya diperoleh dengan cara membeli langsung ke nelayan. Ini dilakukan setiap hari dengan tujuan agar bahan yang dihidangkan selalu segar.’’Untuk menjaga keaslian rasa daging bulus, kami tidak melakukan penangkaran. Kesegaran kondisi binatang hasil tangkapan nelayan sangat berarti bagi kesehatan,’’ tutur Yadi. (Priyonggo-37) 05 Juni 2008

disadur dari : Suara Merderka

BERITA BULUS DARI JOGJA

Kedaulatan Rakyat 25 April 2008

Bulus, adalah nama familiar dari kura-kura yang hidup di perairan air tawar atau sungai. Sebutan raja bulus, mungkin pantas diberikan kepada H Afandi (53). Bapak enam orang anak yang tinggal di Cokrodiningratan No 22 Jetis, Yogya ini sudah sejak tahun 1970-an senang berburu bulus, hampir di semua sungai di Yogya dan Klaten.
Bulus itu diburunya dengan senar pancing nomor 100 dengan dua mata kail di ujungnya, yang diberi umpan precil (anak katak -red). Tahun 1980-an, Afandi mulai menjual bulus yang didapatnya ke pembeli yang ingin mengonsumsi daging dan memanfaatkan minyaknya. Selanjutnya di tahun 1988, ia pun mencoba membuka warung sate bulus di pertigaan timur Jalan Kranggan, yang ternyata laku hingga sekarang.
Ide membudidayakan bulus di samping rumahnya muncul di era 1996. ”Saat itu harga bulus sedang bagus-bagusnya, di pasaran satu ekor bisa sampai 14 ribu hingga 16 ribu dolar. Saya khawatir akan habis kalau hanya diburu, lalu saya mulai membudidayakannya,” tutur Afandi, yang juga hobi menekuni musik dan ketoprak ini.
Berbekal dua indukan bulus jantan dan 10 bulus betina dari Kali Progo, mulailah Afandi menjadi peternak bulus. Ilmunya didapat dari pengalaman gagal berkali-kali, sampai akhirnya ia benar-benar bisa membudidayakannya. ”Bulus ini nama ilmiahnya Trionix cortila javanese, yang belum termasuk hewan yang dilindungi,” ujarnya.
Kolam budidaya bulus di rumahnya tergolong sempit. Hanya berukuran 20 X 8 meter, berbentuk bak memanjang dan bertingkat (trap). Di bawah kolam diberi pasir. Sesekali bulus-bulus itu tampak di permukaan. ”Warna bulus tergantung dari kondisi airnya. Kalau dari Kali Progo cenderung coklat, seputar sungai di Kaliurang dan Kali Bedog warnanya hitam kelam,” sebutnya.
Menurut Afandi, bulus betina bertelur pertama kali umur 2-3 tahun sebanyak 24 butir, yang ukurannya sebesar bola pingpong. Umur 3-4 tahun bertelur 40 butir dan 10 tahun bisa ratusan butir. Di alam, keberhasilan menetasnya 30-40 persen, tapi Afandi berhasil membuatnya menjadi menetas 100 persen. ”Kolam saya yang lain berada di Cebongan, Sleman, karena kolam di rumah sudah tidak cukup,” akunya.
Afandi tak cuma melayani pembelian bulus hidup, yang dijualnya Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu/kg, tapi juga produk ikutannya. Seperti tempurung bulus, untuk bahan kerajinan dan lukisan. Lalu minyak bulus dan sabun bulus, yang dipesan oleh pengusaha spa dan salon-salon kecantikan. ”Hampir semua bagian tubuh bulus laku dijual, kecuali usus terakhir yang dekat kelamin dan kandung kemihnya,” timpalnya.



SATE N TONGSENG BULUS



Februari 11, 2009 oleh jogjakini

Bulus biasanya dipelihara karena keeksotikannya. Binatang yang mempunyai rumah tebal dan keras ini sangat lamban bergerak. Di balik semua itu, Bulus bisa menjadi menu yang unik, sate bulus dan tongseng bulus. Hanya satu tempat yang bisa ditemui hidangan menu bulus ini di Yogyakarta. Anda penasaran? Atau merasa aneh dengana menu yang tidak lumrah ini?

Jika anda ingin mengobati rasa penasaran, bisa saja datang ke warung makan sate dan tongseng Mbak Yanti yang ada di jalan Kranggan. Begitu pesan, bahan sate atau tongseng Bulus yang telah dipersiapkan langsung diramu. Bumbu-bumbu hamper sama, hanya untuk sate mungkin agak terasa pedas. Ini mungkin untuk sedikit mengalahkan amis yang mengikuti sate bulus yang ada. Memang rasanya agak beda dengan sate kambing atau ayam, lebih empuh, dan ada sedikit amis menyertainya. Ujung-ujungnya, enak juga dan pasti habis. satu porsi dengan lima tusuk kecil untuk sate bulus dihargai Rp 15.000,00. Tongsengnya, lebih rendah, Rp 12.000,00.

Yanti yang kini menjaga warung ini mengaku, kakeknya Pak Ali mengawali jualan bulus ini sekitar 15 tahun lalu. Warung itu sempat diwariskan ayahnya, Bapak Affandi dan kini dirinya yang menunggui warung sate Bulus ini. Dalam sehari, rata-rata ada 5-6 pelanggan yang dating. Bulus yang disiapkan tidak tentu, kadang 1 ekor, kadang 2 ekor tergantung ukuran bulus tersebut, rata-rata 3 kilogram.

Selain menikmati rasanya, biasanya orang mencari bulus karena kasiatnya. Kepercayaan pelanggan, banyak manfaat yang dikandungnya. Contohnya, minyaknya bisa untuk perawatan kulit supaya halus, empedu bulus untuk obat asma, sesak nafas, obat sakit gigi. Batok tempurung untuk mempercepat sambung tulang dan yang paling istimewa adalah tangkur bulus yang bermanfaat untuk obat kuat lelaki. Biasanya pelanggan banyak yang mencari ini. Walau begitu, harga tangkur ini lebih mahal, sekitar Rp 25.000,00. Selain di Jalan Kranggan, untuk mendapatkan bulus yang masih mentah atau hidup bisa mendatangi Pusat Penampungan dan budidaya bulus di COkrodiningratan JT II/ 221 Yogyakarta. Selamat berburu! ***

Warung Makan Sate dan Tongseng Bulus Mbak Yanti
Alamat : Jalan Kranggan Kios Nomor 1 Yogyakarta
Jam buka : 10.00 hingga 21.00 WIB
Phone : 081904267957 dan 081804345173


TERNAK BULUS


A. Pengenalan Jenis

Nama labi-labi (Trionyx sinensis) juga dikenal untuk spesies Trionyx cartilagineous dan spesies Trionyx lainnya. Labi-labi atau bulus dipelihara di dalam kolam. Awalnya, bulus termasuk hama, sama seperti belut. gabus, dan komoditi penting lainnya. Bulus memiliki nilai ekonomis tinggi. Hampir seluruh bagian tubuh labi-labi dapat dimanfaatkan, baik daging maupun cangkangnya. Selama ini pasokan labi-labi dipenuhi dari tangkapan alam karena hasil budi daya belum signifikan jumlahnya.



Bentuk tubuh bulus oval atau agak lonjong, dan pipih. Tubuhnya tanpa sisik dan berwarna abu-abu kehitaman. Kerapas dan plastron (bagian bawah tubuh yang tidak tertutup cangkang) terbungkus kulit yang liat.
Pastronnya berwarna putih pucat hingga kemerah-merahan. Kulit tertutup oleh perisai yang berasal dari lapisan epidermis berupa zat tanduk. Hidungnya memanjang membentuk tabung, seperti belalai. Labi-labi tidak bergigi, tetapi rahangnya sangat kuat dan tajam.


B. Kebiasaan Hidup di Alam

Labi-labi bernapas dengan paru-paru (pulmo), baik yang baru menetas maupun labi-labi dewasa.

1. Kebiasaan makan

Labi-labi memakan ikan dan udang kecil di alam. Di kolam, labi-labi bisa diberikan pakan berupa cincangan ikan atau isi perut ternak ruminansia.

2. Kebiasaan berkembang biak

Di alam, labi-labi umumnya berpijah antara Juli—Desember. Labi-labi berkembang biak dengan cara bertelur (ovivar). Setiap kali labi-labi bertelur mencapai 10-30 butir. Telur berwarna krem dengan diameter antara 2-3 cm. Telur-telur yang dikeluarkan ditimbun dalam tanah berpasir selama lebih kurang 45-50 hari pada suhu 25-30 derajat C.

C. Memilih Induk
Labi-labi yang hendak dipijahkan di kolam pemijahan harus memenuhi persyaratan khusus, di antaranya umur dan ukuran. Selain itu, perbandingan antara induk jantan dan betina harus tepat. Adapun ciri induk jantan dan betina yang baik sebagai berikut.


Ciri induk yang berkualitas
Betina
- Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
- Ukuran tubuhnya lebih kecildibandingkan jantan.
- Ekor induk betina pendek dan tidak menonjol keluar dari cangkangnya.
- Bentuk cangkangnya lebih bulat dan lebih tebal.
- jarak antar kedua kaki belakang lebih panjang, karena erat kaitannya dengan proses bertelur.
- Alat kelamin tumpul.




jantan
- Umur sudah mencapai 2 tahun atau lebih.
- Ukuran tubuhnya lebih besar dibandingkan betina, kadang-kadang dua kali besarnya.
- Ekor induk jantan lebih panjang dan menonjol keluar dari cangkangnya.
- Bentuk cangkangnya lebih oval dan dan lebih tipis.
- jarak antar kedua kaki belakang lebih pendek.
- Alat kelamin lancip.



D. Pemijahan ahan di Kolam

Dalam pemijahan labi-labi di kolam perlu diperhatikan faktor-faktor penting lainnya, seperti konstruksi kolam, persiapan kolam, dan proses pemijahannya.

1. Konstruksi kolam
Kolam pemijahan labi-labi berbentuk persegi panjang. Luas kolam tergantung lahan yang tersedia, umumnya antara 200-300 m2 dengan ketinggian pematang 1,5-1,75 m. Dasar kolam sebaiknya dilapisi pasir, sedangkan dinding pematang diusahakan tembok.

Pada salah satu sisi kolam dibuatkan kandang peneluran seluas 2 M X 2 m x 1 m sebanyak 3 buah. Kandang ini dihubungkan dengan jembatan penghubung yang terbuat dari anyaman bambu atau papan. Tujuan pembuatan jembatan adalah untuk memudahkan induk labi-labi masuk ke dalamnya. Kandang peneluran sebaiknya dilengkapi peneduh untuk melindungi telur dari sengatan matahari langsung dan hujan. Dasar kandangnya dilengkapi dengan pasir halus setebal 20 cm agar induk mudah menyembunyikan telur-telurnya.

2. Persiapan kolam
Kolam pemijahan dikeringkan 3-5 hari. Kandang tempat pemijahan labi-labi diupayakan terkena sinar matahari langsung agar bibit penyakit mati. Selanjutnya, induk dimasukkan ke dalam kolam. Adapun perbandingan induk jantan dan betina yang dikawinkan 1: 4. Artinya, seekor pejantan labi-labi diharapkan bisa mengawini 4 ekor induk labi-labi betina.


3. Pemijahan

Pemijahan biasanya terjadi pada 7-12 hari setelah penebaran induk. Induk akan bertelur pada malam hari, antara pukul 20.00-02.00. Seekor induk betina biasanya akan menghasilkan 30-40 butir telur. Bentuk telur labi-labi seperti bola pingpong berwarna krem dan ukuran telur biasanya berdiameter antara. 1-3 cm.


Telur yang selesai dikeluarkan oleh induk harus segera dipindahkan ke dalam ruang inkubator atau ruang penetasan telur. Sementara telur yang di dalam timbunan pasir bisa dikeluarkan dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti sekop.


E. Penetasan Telur dan Perawatan Benih

Telur-telur disusun secara teratur di dalam kotak penetasan yang diisi pasir setebal 5 cm. Kotak tersebut berukuran 40 cm x 6o cm x 5 cm. Selain itu, disediakan juga baskom berisi air yang dipasang sejajar dengan permukaan lantai. Baskom ini akan dibutuhkan oleh tukik setelah keluar dari cangkang.

Selama proses penetasan, suhu ruangan diusahakan antara 29-33 derajat C dengan kelembapan 85-95%. Telur akan menetas setelah 40-45 hari pada suhu 30 derajat C. Namun, kadang-kadang telur akan menetas setelah 60 hari.
Setelah menetas, tukik langsung mencari air yang sudah disediakan di dalam baskom tersebut. Berat tukik yang menetas berkisar 7-9,3 g/ekor. Tukik yang baru menetas belum membutuhkan pakan dari luar karena menyerap sari makanan dari yolk sack yang dibawanya sejak lahir.

F. Pendederan

Setelah hari kelima, tukik ditangkap untuk dipindahkan ke kolam pendederan. Luas kolam pendederan biasanya sekitar l00-600 m2, tergantung lahan yang tersedia. Dasar kolam pendederan berpasir dengan ketinggian air berkisar 50-75 cm. Kolam yang airnya terlalu dalam, akan menyulitkan labi-labi untuk mengambil oksigen langsung dari udara.
Kepadatan kolam penebaran 45-50 ekor /m2• Lama pemeliharaan tukik di kolam tersebut selama 2 bulan. Selama pemeliharaan, tukik diberi pakan berupa cincangan daging ikan. Pakan yang diberikan sebanyak 5% dari berat labi-labi yang ditebarkan. Pakan tersebut ditempatkan di tepian kolam, pada batas permukaan air kolam. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore hari.


Labi-labi suka berjemur sehingga 1/3 bagian kolam diberi tanaman peneduh berupa eceng gondok. Selain itu, beberapa bagian kolam diberi tempat berjemur dari papan yang bisa mengapung.


G. Pembesaran

Luas kolam pembesaran bervariasi antara 100-600 m2. Kolam yang terlalu besar akan menyulitkan pengontrolan, sedangkan kolam yang
terlalu kecil kurang efektif karena jumlah labi-labi muda yang ditebarkan jumlahnya sedikit. Ketinggian air kolam pembesaran minimal 75 cm.

Tukik yang ditebarkan ke dalam kolam pembesaran berumur 2 bulan. ukurannya seragam. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari agar tukik tidak stres. Kepadatan penebaran yaitu 8-10 ekor/m2.

Untuk mencapai ukuran 300-600 g/ekor, seekor tukik membutuhkan waktu 3-6 bulan. Panen biasanya dilakukan setelah dipelihara selama 6-7 bulan dengan berat 700-800 g/ekor. Untuk mencapai
ukuran dewasa, tukik membutuhkan waktu 2-3 tahun. Pembesaran lebih lanjut hanya dilakukan untuk menghasilkan induk labi-labi sebab ukuran konsumsi yang paling dikehendaki konsumen yaitu 700-800 g/ekor, kurang dari 1 kg.



SPECIALIS MANCING BULUS
Kedaulatan Rakyat

SUATU siang, di tahun 2006. Kuat melempar kail berumpan usus ayam di genangan waduk PLTA Mrica di Desa Pucang, Barat Kota Banjarnegara. Tak berselang lama, tali senar pancing bergerak. Dari gerakannya yang tak terlalu agresif, Kuat yakin mata pancing ditelan oleh kura-kura atau bulus.
Tempat Kuat memancing, sebelum menjadi genangan waduk mulai 1989, merupakan kedung atau cekungan Sungai Serayu yang sangat dalam. Orang menyebutnya dengan nama Kedung Celong. Kuat terperanjat sekaligus girang saat bulus yang terkena pancing tadi menyembul ke permukaan air selama beberapa detik. Ukurannya luar biasa besar, dengan garis tengah sekitar satu setengah meter. Selanjutnya Kuat pinjam perahu milik penambang pasir yang mangkal di tempat itu. Perahu dikayuh pelan-pelan mengikuti arah tarikan senar pancing. Rupanya, bulus menuju arah hilir. Sampai di wilayah Desa Blambangan atau sekitar dua kilometer dari Pucang, bulus raksasa itu menepi.Dibantu seseorang, akhirnya bulus bisa diangkat ke darat. Ketika ditimbang, bobot bulus mencapai 105 kilogram.
Tertangkapnya hewan air raksasa bernama ilmiah Amyda cartilaginea tadi, tak pelak membuat gempar. Kuat kemudian menjualnya kepada seseorang di Purbalingga dengan harga Rp 1,5 juta.
‘Jajahan’
Memancing bulus, ditekuni Kuat sejak muda hingga usianya yang sekarang mendekati 80 tahun. Daerah ‘jajahan’ utamanya adalah Sungai Serayu yang kini jadi genangan waduk PLTA Mrica. Dari pekerjaannya tadi, warga Dusun Gondang Desa Semampir barat kota Banjarnegara itu, mampu menghidupi keluarganya. Bahkan, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. ”Dua anak saya sekarang masih kuliah di Yogya. Semua berkat bulus,” kata Kuat, Kamis (16/7) dengan nada bangga.
Demi bulus, hari-hari Kuat nyaris dihabiskan ditepi genangan waduk. Sering pula ia harus begadang semalaman di situ dengan berbekal umpan seperti usus ayam, bekicot, katak kecil dan lainnya. Rupanya, alam cukup bersahabat dengan lelaki tua tadi, terbukti populasi bulus cukup tinggi. Sehingga, ia tak pernah pulang dengan tangan hampa.
Bulus hasil pancingan Kuat, untuk ukuran kecil hingga 20 kilogram, biasanya dijual Rp 10 ribu/kilogram. Sedangkan bulus dengan bobot 20 kilogram ke atas harganya sekitar Rp 15 ribu/kilogram. Perbedaan harga itu, menurut Kuat, karena semakin tua bulus, kandungan minyaknya makin sedikit. Pembeli bulus, kebanyakan rumah makan, disusul kolektor dan penggemar daging bulus.
Ditanya pendapatan rata-rata per bulan, Kuat tak tak mau menyebut. Namun, Slamet (30) warga Desa Pucang yang kini mencoba mengikuti jejak Kuat sebagai pemancing bulus, mengatakan, pendapatan seniornya itu mencapai jutaan rupiah per bulan.
”Hitungan saya didasarkan pada perolehan bulus pak Kuat sehari-hari. Buktinya, dia bisa membiayai kuliah anak-anaknya,” katanya. (Mad)-s

1 comment:

  1. eh bulus tu dilindungi g ya, :bingung

    ReplyDelete