Wednesday, November 11, 2009

cetul rowo pening gurih, ayo budidaya cetul

dikutip dari majalah TROBOS
isine; tentang wader cempli, iwak cempli, iwak deduk, unjar gondok, ikan cere, wader cethul, iwak cetul, ikan cetul, guppy jowo

Dulu diemohi, kini jadi santapan berkelas
gambar; cetul jantan (berwarna) dan cetul betina / iwak deduk / cempli wedok / unjar gondok / wader cempli

Ukurannya mungil, jauh dari ukuran bangsa ikan lainnya yang umum dikonsumsi. Rata-rata panjang tubuh cuma 2 cm dengan diameter perut 0,2 cm. Banyak ditemui di perairan tawar seperti sungai di pedesaan atau di rawa-rawa berlumpur. Dulu, ikan yang oleh sebagian orang Jawa dinamai ?cethol? ini tak banyak menarik perhatian, bahkan diemohi oleh kebanyakan orang. Tapi jangan salah, belakangan si imut acap hadir di atas meja berdampingan dengan sajian pesta di hotel-hotel atau ada dalam daftar menu restoran berbintang, terutama di kawasan DIY dan Jawa Tengah.
Muh Yusuf, pemilik CV Makarya Mina, produsen pangan olahan cethol asal Tuntang, Kabupaten Semarang menuturkan, ikan yang bernama lain Celili-Mence dan Gajah Mina ini kian populer lantaran rasanya yang renyah, lezat lagi berprotein tinggi. Menemani nasi pulen dalam makan siang atau makan malam bersama sambal tomat bisa jadi menu pilihan. Selain itu, cethol pantas juga untuk camilan di waktu santai. Salah satu kelebihannya yang membuatnya makin dicari adalah sajiannya yang kering sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu relatif panjang, dapat pula jadi buah tangan.


gambar: cetul jantan/cempli lanang/guppy

Sayangnya, produksi bahan baku belum mampu mengimbangi tingginya permintaan. Menurut Yusuf, kebutuhan pasar lokal, yang meliputi Kab Semarang dan Salatiga setidaknya 4 kuintal/hari. Untuk memenuhi permintaan wilayah tersebut, ikan didatangkan dari Rawa Pening, Tuntang. Tetapi, karena hanya mengandalkan hasil tangkapan, dari lokasi ini baru mampu menghasilkan paling banter 3 kuintal/hari. Maka untuk menjawab pasar yang 60% telah ada dalam genggamannya itu, Yusuf pun mendatangkan cethol asal Kali Serayu, Wanadadi Banjarnegara. Kendati, menurut pengamatan pria ini kualitas cethol asal Serayu tidak sebaik asal Rawa Pening. Tapi tak ada jalan lain, ?Meski sedikit lembek, masih dapat mengimbangi cethol Rawa Pening.? Ditambahkan pria yang telah menggeluti bisnis ini 8 tahun, produksi cethol asal Kali Serayu mampu mencapai 5 kuintal saban harinya, lebih tinggi dibandingkan Rawa Pening.
Belum lagi banyaknya permintaan yang belum dipenuhi, seperti Jakarta, Semarang, Magelang, Temanggung, Solo dan Jogja. ?Pangsa pasarnya luar biasa!? kata Yusuf, yang menekuni bisnis ini sejak 8 tahun silam. Pria yang sering disapa Abang Cethol ini punya mimpi, andaikan cethol dibudidayakan. ?Coba saja budidaya, insyaAllah pasar ekspor juga bisa digarap,? ia mengurai asa. Terlebih kualitas air di rawa mulai tidak baik, akibat pencemaran. Ia khawatir jumlah tangkapan makin hari makin surut.

gambar; pecel wader & cetul/cempli/deduk/cere

Mau yang Sederhana atau Kedap?
Pengolahan panganan cethol yang garing dijelaskan Ahmad Hanif, Manajer produksi CV Makarya Mina. ?Ada dua macam, yang sederhana dan yang kedap udara,? istilah Hanif. Untuk yang pertama, memang cukup sederhana. Ikan cukup dilumuri tepung berbumbu, kemudian digoreng. Meski demikian, perlu teknik khusus untuk menghasilkan kudapan cethol yang garing, renyah dan awet. Perlu diperhatikan kadar air, ?Supaya tidak nggedibel (menggumpal-red),? ia beralasan. Akibatnya bisa berpengaruh pada daya simpan panganan tersebut. Lama menggoreng pun perlu kejelian. ?Jangan terlalu matang. Cukup sepertiga matang,? ujarnya berbagi tips. Menurut Hanif, minyak yang terkandung masih panas sehingga proses pematangan ikan masih berlanjut meski sudah diangkat dari penggorengan.

01 August 2008
Cethol: Yang Imut dari Rawa Pening

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Agustus 2008

2 comments:

  1. mbak ngomong2 alamat yang jelas asal pengusaha ikan cere dimana? atau alamat e-mail njenengan?harry, (xelbitya@yahoo.com)

    ReplyDelete
  2. Mbk alamatnya mana no hpnya

    ReplyDelete