Friday, November 27, 2009

202 hektar sawah tergenang luapan air rawapening

gambar; sawah pinggir jalan raya Ambarawa-Banyubiru yang tergenang luapan rawapening, hanya pematangnya saja yang terlihat, menjadi tempat mancing musiman setiap musim hujan, dimana ikan nila, mujahir dan ikan nilem (wader ijo) rawapening pada naik ke sawah untuk bertelur dan mencari makan di sawah yang subur kaya plangton dari busukan jerami setelah panen, pemancing tinggal parkir motor dipinggir jalan trus langsung lempar pancing, asik, pemandangan indah hawanya sejuk dan segar, ada yang jualan jajanan yang dipikul, mendatangi para pemancing, ngilangin suntuk diantara rutinitas bekerja seharian

UNGARAN-HUMAS : Akibat luapan air Rawa Pening di musim penghujan ini, 202 hektar areal pertanian disekitarnya tergenang air. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Semarang Ir Urip Triyogo MM di Ungaran, Senin (9/2) siang menjelaskan areal pertanian yang tergenang itu terletak di desa Tambakboyo dan Bejalen Kecamatan Ambarawa seluas 55 hektar, desa Rowosari Tuntang 30 hektar dan di Kecamatan Banyubiru seluas 117 hektar yang tersebar di tiga desa.

Dijelaskan, tanaman padi yang terendam itu berumur 1-1,5 bulan dan dikhawatirkan akan rusak atau puso. “Bila genangan air tidak surut dan menggenang hingga sepekan, potensi padi menjadi puso sangat besar. Kenyataannya, curah hujan dalam beberapa hari terakhir ini cukup tinggi,” kata Urip.
Dari hasil pemantauan, pihak Distanbunhut akan mengusulkan bantuan benih bagi petani yang areal persemaian bibitnya ikut terendam. Seperti yang terjadi di desa Rowosari Tuntang, lahan persemaian bibit padi yang dibuat setelah masa panen rusak karena terendam air. “Usulan bantuan akan diajukan ke Pemprov Jawa Tengah dan perubahan APBD Kabupaten Semarang 2009,” tambahnya lagi.
Luapan air Rawa Pening itu terjadi diperkirakan karena sedimentasi di dasar rawa dan populasi enceng gondok yang sangat banyak dan tidak terkendali. Upaya pengerukan lumpur dari dasar rawa dan pembersihan enceng gondok diakui membutuhkan dana besar dan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Sementara itu dari data Badan Pengelola Sumber Daya Air Jragung-Tuntang, tinggi permukaan air Rawa Pening di pos pemantauan Candi mencapai 463,12 meter diatas permukaan laut (dpl). Titik puncak ketinggian adalah 463,30 meter dpl. Menurut koordinator satuan kerja Rawa Pening, Kuristiyanto keadaan ketinggian air itu membawa situasi dilematis untuk menyeimbangkan potensi kerawanan banjir wilayah atas dan bawah. Jika tidak dibuang, air akan menggenangi areal pertanian di wilayah atas bahkan bisa mengancam pemukiman penduduk. Sementara jika dibuang ke bawah dengan volume besar, bisa semakin memperparah banjir di wilayah bawah diantaranya Demak dan sekitarnya.(*/junaedi)

Sumber : http://www.semarangkab.go.id

No comments:

Post a Comment